Selasa, 01 Juni 2010

MAKALAH

MAKALAH IPTEK-MUTAKHIR
“ BULIMIA ”













KELOMPOK 2 :

1. Dwi Kusuma Dewi (PO 7131107045)
2. Fitriyanti Novi P. A (PO 7131107048)
3. Nurul Munawwaroh (PO 7131107060)
4. Prapti Wigati (PO 7131107061)
5. Rizky Arin Pradika (PO 7131107066)
6. Winarsih (PO 7131107072)




DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN GIZI
2009
A. PENDAHULUAN
1. Definisi Bulimia
Bulimia merupakan bahasa latin dari sebuah kata Yunani boulimia, yang artinya “extreme hunger” alias lapar yang amat sangat. Ini sesuai dengan gambaran para bulimics -orang yang bulimia-, mereka cenderung makan dalam jumlah banyak dalam waktu yang singkat, seperti orang yang kelaparan. Dan selanjutnya sebagai “kompensasi” dari pola makannya tersebut, mereka akan melakukan berbagai cara yang intinya supaya berat badan mereka tidak bertambah meski mereka sudah makan banyak. Bulimia nervosa merupakan gangguan psikologis yang menyebabkan terjadinya gangguan pola makan ditandai dengan makan terlalu banyak dan diikuti dengan muntah yang dirangsang sendiri (FKM-UI 2007).
Bulimia nervosa selama ini belum banyak dikenal masyarakat. Karena kasusnya jarang, orang sering mengabaikan penyakit ini. Padahal, kalau tidak segera di atasi, bulimia bisa mengganggu jiwa dan raga penderitanya. Bulimia Nervosa adalah penyakit gangguan pencernaan yang lebih sering menimpa wanita remaja dan pertengahan usia (sering diidap oleh wanita pada usia SLTA atau saat mahasiswa) namun mempunyai rentang umur yang lebar yaitu antara 13-58 tahun. Penolakan makan ini juga terjadi pada lebih dari 20% anak prasekolah. Sekitar 90-95%. Bulimia Nervosa mengenai kelompok masyarakat dengan status sosial ekonomi tinggi, namun belakangan dilaporkan dapat mengenai semua kelompok masyarakat (Paisal, 2008).
Bulimia Nervosa meningkat pada 2 dekade terakhir. Wanita lebih sering mengalami gangguan makan, dengan perbandingan wanita dengan laki-laki 10 : 1. Awalnya gangguan makan tersebut hanya dilaporkan pada golongan sosial ekonomi menengah dan atas, tetapi pada saat ini dilaporkan juga pada golongan sosial ekonomi rendah. Kelainan ini juga ditemukan pada berbagai kelompok etnik dan ras. Dilaporkan 19 % dari pelajar wanita usia remaja lanjut di Belanda menunjukkan gejala bulimia. Prevalensi bulimia 1500 kasus dari 100.000 wanita muda. rata-rata bulimia pada umur 18 – 19 tahun, kelainan tersebut relatif lebih jarang pada masa remaja awal (Gowers SG 2004).
Bulimia nervosa merupakan penyakit gangguan pada kebiasaan atau pola makan. Eating disorders (gangguan makan) adalah suatu sindrom psikiatrik yang ditandai oleh pola makan yang menyimpang terkait dengan karakteristik psikologik yang berhubungan dengan makan, bentuk tubuh, dan berat badan. Gangguan pola makan terjadi akibat beberapa sebab dalam perilaku makan, seperti konsumsi makanan yang kurang sehat atau makan yang terlalu banyak. Pola ini bisa disebabkan perasaan distress atau berkenaan dengan bentuk badan serta beratnya kemudian mereka membahayakan komposisi bentuk dan fungsi badan normal. Gangguan pola makan secara bertahap muncul pada masa dewasa atau dewasa awal. Kebanyakan orang dewasa bisa menyembunyikan perilaku ini dari keluarga mereka selama beberapa bulan bahkan tahun. Gangguan pola makan bukan merupakan kegagalan akan sesuatu ataupun perilaku, akan tetapi nyata, penyakit medis yang muncul dari beberapa pola makan yang menyimpang dalam hidup seseorang. Salah satu tipe gangguan pola makan adalah bulimia nervosa. Bulimia nervosa adalah pesta makanan yang diikuti dengan mencuci perut atau sampai muntah. Rata-rata 1.1 sampai 4.2 % dari wanita pernah mengalami bulimia nervosa semasa hidupnya. Penyakit ini baru diteliti dan belum diterima dalam kamus diagnosis psikiater (Putra, 2008).










Gangguan pola makan biasanya muncul bersamaan dengan penyakit lain seperti depresi, menjadi bagian dari sebuah kekerasan, dan gangguan kecemasan. Dalam hal ini, orang yang menderita gangguan pola makan bisa mengalami komplikasi kesehatan fisik yang lebih jauh lagi, termasuk masalah kondisi kerja hati dan gagal ginjal, yang mana dapat menyebabkan kematian. Mengenali kembali gangguan pola makan sebagai gejala yang serius dan mengancam, sangatlah penting. Wanita sangat berpotensi mengembangkan gangguan pola makan. Rata-rata bulimia diperkirakan 35 % diantaranya dengan gangguan makan banyak diderita oleh laki-laki. Penderita bulimia nervosa makan dalam jumlah sangat berlebihan (menurut riset, rata-rata penderita bulimia nervosa mengonsumsi 3.400 kalori setiap satu seperempat jam, padahal kebutuhan normal hanya 2.000-3000 kalori per hari). Biasanya penderita tidak langsung ketahuan oleh orang lain bahwa ia menderita penyakit ini, karena berat badannya normal dan tidak terlalu kurus. Karena tidak ketahuan sehingga tidak ditangani dokter, penyakit yang sering berawal ketika seseorang masih berusia remaja ini dapat berlangsung terus sampai ia berusia empat puluhan sebelum ia mencari bantuan. Banyak penderita bulimia memiliki berat badan yang normal dan kelihatannya tidak ada masalah yang berarti dalam hidupnya. Biasa mereka orang-orang yang kelihatan sehat, sukses di bidangnya, dan cenderung ferfeksionis. Namun, di balik itu, mereka memiliki rasa percaya diri yang rendah dan sering mengalami depresi. Mereka juga menunjukkan tingkah laku yang kompulsif, misalnya, mengutil di pasar swalayan, atau mengalami ketergantungan pada alkohol atau lainnya. Masalah kesehatan yang paling sering muncul adalah gigi busuk dan ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh akibat muntah dan obat pencahar. Selain itu, juga dapat terjadi kerusakan usus dan dehidrasi yang bisa berakibat fatal. Penderita bulimia menyadari dirinya memiliki perilaku makan yang tidak normal, namun mereka merasa tidak mampu untuk mengubahnya (Sidenfeld 2001).
2. Tipe Bulimia
a. Bulimia Nervosa-Purging Type
Tipe yang memuntahkan kembali makanan setelah sangat kenyang (menggunakan purging medications). Dilakukan dengan menusukkan jari ke tenggorokan, atau dengan menggunakan obat-obatan laksatif, obat pencahar, maupun obat-obatan lain. Tujuannya agar makanan tidak sempat dicerna oleh tubuh sehingga tidak menambah berat badan.
b. Bulimia Nervosa-Non Purging Type
Penderita berolahraga berlebihan setelah makan atau berpuasa untuk mengontrol berat badan, namun tidak muncul purging behaviors. Tujuannya agar energi yang dihasilkan dari makanan dapat langsung dibakar danhabis.
Berbagai teori mencoba menjelaskan penyebab dari bulimia, ada yang menyebutkan kalau penyebabnya adalah multifaktor. Genetik, beberapa penelitian menyebutkan ada komponen genetik yang diturunkan pada gangguan perilaku makan ini. Neurotransmitter tertentu, suatu senyawa kimia yang menghantarkan impuls syaraf, pada orang yang bulimia kadarnya tidak normal sehingga para peneliti ini beranggapan ada kelainan pada sistem syaraf pusat yang dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Neurotransmitter yang abnormal tersebut adalah serotonin, yang juga dipercaya sebagai neurotransmitter yang berhubungan dengan gangguan mood. Kondisi keluarga berupa pelecehan seksual terhadap anak atau orang tua yang mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan yang mengharuskan pengontrolan berat badan yang ketat seperti balet, senam, modeling dapat sebagai faktor risiko timbulnya bulimia nervosa. Pada anak yang mengalami pelecehan seksual ditemukan kadar serotonin yang abnormal. Faktor sosiokultural merupakan salah satu faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap timbulnya kelainan ini. Kita tahu bahwa makanan yang banyak beredar serta disukai oleh banyak orang pada masa ini adalah makanan seperti roti-roti, fast food, es krim, pizza yang merupakan karbohidrat olahan. Setelah diteliti, mereka yang mengkonsumsi makanan ini, kadar serotonin dalam darah mereka meningkat sementara hingga 450 %. Coba lihat juga makanan yang ditawarkan oleh berbagai gerai makanan yang ada di pusat perbelanjaan, sebagian besar merupakan makanan karbohidrat olahan. Itulah salah satu alasan kenapa di negara-negara maju angka kejadian bulimia pada gadis remaja atau wanita muda nya cukup tinggi. Berbeda dengan mereka yang tinggal di negara berkembang, yang pola konsumerisme berbeda, pola makan juga berbeda. Di negara berkembang, orang lebih banyak mengkonsumsi makanan berkarbohidrat bukan olahan -nasi, sayur, buah- yang efeknya jauh lebih rendah dalam meningkatkan serotonin dalam darah. Tapi kalau di negara berkembang yang mall-mall nya juga berkembang pesat, berarti perlu diteliti lebih lanjut tentang kejadian bulimia nervosanya. Tidak mengherankan data epidemiologi mengatakan bahwa wanita mengalami gangguan ini 20 kali lebih banyak dari pada pria. Selain itu kebanyakan awal gangguan ini adalah pada saat usia remaja yaitu antara rentang umur 14 sampai 18 tahun (Sidenfeld, 2001).

B. INSIDEN BULIMIA
1. Dalam populasi 100.000 orang, 14 orang diantaranya menderita Bulimia Nervosa.
2. Umumnya diderita oleh wanita dewasa muda dan gadis remaja (1-4% berusia 18-30 tahun).
3. Laki-laki jarang ditemukan menderita penyakit ini, diantara 10 orang penderita hanya terdapat 1 orang laki-laki.
4. Diantara pasien Bulimia Nervosa, sepertiga diantaranya memiliki riwayat Anorexia Nervosa.
5. Sepertiga diantara pasien memiliki riwayat obesitas.
Bulimia nervosa lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan pada laki-laki, tetapi onsetnya lebih sering pada masa remaja dibandingkan pada masa dewasa awal. Diperkirakan bulimia nervosa terentang dari 1-3 persen wanita muda. Banyak penderita bulimia nervosa memiliki berat badan yang normal dan kelihatannya tidak ada masalah yang berarti dalam hidupnya. Biasanya mereka orang-orang yang kelihatannya sehat, sukses di bidangnya dan cenderung perfeksionis. Namun, dibalik itu, mereka memiliki rasa percaya diri yang rendah dan sering mengalami depresi. Mereka juga menunjukkan tingkah laku kompulsif, misalnya, mengutil di pasar swalayan, atau mengalami ketergantungan pada alkohol atau lainnya. Bulimia nervosa sering terjadi pada orang dengan angka gangguan mood dan gangguan pengendalian impuls yang tinggi. Juga telah dilaporkan terjadi pada orang yang memiliki resiko gangguan berhubungan dengan zat dan gangguan kepribadian, memiliki angka gangguan kecemasan dan gangguan dissosiatif yang meningkat dan riwayat penyiksaan seksual. Insidens bulimia nervosa (BN) meningkat pada 2 dekade terakhir. Empat wanita lebih sering mengalami gangguan dengan perbandingan wanita dengan laki-laki 10 : 1. Awalnya gangguan makan tersebut hanya dilaporkan pada golongan sosial ekonomi menengah dan atas, tetapi pada saat ini dilaporkan juga pada golongan sosial ekonomi rendah. Kelainan ini juga ditemukan pada berbagai kelompok etnik dan ras. BN lebih sering dijumpai. Dilaporkan 19 % dari pelajar wanita usia remaja lanjut di Belanda menunjukkan gejala bulimia. Prevalensi BN 1500 kasus dari 100.000 wanita muda. Onset rata-rata kejadian BN pada umur 18 – 19 tahun, kelainan tersebut relatif lebih jarang pada masa remaja awal. Dari suatu penelitian jangka panjang didapatkan bahwa 71 % dari pasien-pasien BN yang mendapatkan terapi intensif dapat mempertahankan hasil terapi lebih dari 6 tahun (Sakura, 2009).

C. ETIOLOGI
Penyebab Bulimia nevosa dapat dijelaskan dengan pendekatan beberapa jenis model yaitu
1. Model adikasi
Bulimia Nervosa diyakini sebagai adiksi terhadap makanan dan tingkah laku. Hal ini berhubungan dengan pengobatan Bulimia Nervosa yang menekan kan pada penghentian, dukungan sosial dan mencegah kekambuhan, dimana metode ini mirip dengan pengobatan adiksi terhadap alcohol maupun obat-obatan.
2. Model keluarga
Gangguan makan pada remaja berhubungan dengan system interaksi antara keluarga. Oleh karena itu fokus pengobatan penderita bulimia nervosa adalah disfungsi interaksi dalam keluarga. Penderita bulimia nervosa pada umumnya memiliki riwayat kekerasan fisik maupun seksual semasa kanak-kanak.
3. Model sosial budaya
Publikasi media tentang hubungan antara tubuh yang langsing dengan karier yang sukses telah merangsang para remaja untuk melakukan diet supaya tubuhnya menjadi langsing. Banyak remaja yang gagal mencapai keaadaan ini dan akhirnya menjadi penderita bulimia nervosa.
4. Model kognitif dan tingkah laku
Bulimia nervosa merupakan implementasi tingkah laku yang irasional tentang bentuk tubuh, berat badan, diet dan kepercayaan diri. Fokus pengobatan adalah mengidentifikasi disfungsi ini dan membantu menumbuhkan keyakinan yang rasional. Penderita diberikan jadwal makan yang jelas dan teratur.
5. Model psikodinamik
Bulimia nervosa merupakan usaha untuk mengendalikan atau menghindari dampak perasaan yang tertekan, implusif dan kecemasan. Pengobatan psikodinamik adalah mencari proses yang mendasari penderita bulimia nervosa terutama gambaran psikososialnya (Angelia, 2009).

Penyebab pastinya tidak diketahui, tetapi faktor-faktor yang diduga berperan dalam terjadinya bulimia nervosa adalah :
• Faktor psikososial
Berupa perkembangan individu, dinamika keluarga, tekanan sosial untuk berpenampilan kurus serta perjuangan untuk mendapatkan identitas diri.
• Faktor genetik
Adanya bukti bahwa bulimia banyak didapat pada penderita dengan riwayat keluarga gangguan depresi dan kecemasan, serta lebih banyak pada kembar monozigot dibandingkan dizigot.
• Faktor biologik
Penurunan sintesis, uptake dan turnover serotonin serta penurunan sensitivitas reseptor serotonin post sinaptik. Berdasarkan studi ditemukan fakta bahwa genetik, hormon dan bahan kimia yang terdapat di otak berpengaruh terhadap efek perkembangan dan pemulihan bulimia.
• Faktor budaya
Kebanyakan orang menilai bahwa cantik identik dengan kurus dan terkadang kondisi tersebut menjadi suatu tuntutan kerja. Anggapan ini pun menjadi budaya yang berkembang di masyarakat.
• Perasaan pribadi
Penderita bulimia senantiasa berputus asa terhadap dirinya sendiri, tidak percaya diri sehingga mereka diet dengan cara menggunakan pil diet bahkan memuntahkan makanan. Penilaian orang terhadapa dirinya menyebabkan kecemasan dan tekanan yang dapat menyebabkan stress sehingga untuk mengatasinya mereka cenderung ke arah bulimia (http://www.emedicine.com).
Faktor lain yang mendorong timbulnya bulimia nervosa adalah masalah keluarga, pubertas, gangguan adaptasi, lingkungan dan penerimaan teman sebaya, media dan masyarakat serta krisis identitas. Bulimia juga sering dihubungkan dengan depresi. Kebanyakan, penderita bulimia berasal dari keluarga yang tidak bahagia, umumnya mereka memiliki orang tua yang gemuk, atau mereka sendiri kegemukan pada masa kanak-kanak. Namun hingga kini masih belum jelas apakah gangguan emosional ini sebagai sebab atau akibat dari bulimia (Tyas rara, 2008).

D. PATOFISIOLOGI
Ketika memasuki masa remaja, khususnya masa pubertas, remaja menjadi sangat concern atas pertambahan berat badan mereka. Terjadi perubahan fisiologis tubuh yang kadangkala mengganggu. Biasanya, hal ini lebih sering dialami oleh remaja putri daripada remaja pria. Bagi remaja putri, mereka mengalami pertambahan jumlah jaringan lemak sehingga mereka akan mudah untuk gemuk apabila mengkonsumsi makanan yang berkalori tinggi. Kalau dulu makan apapun tidak berefek bagi berat badan, tapi setelah masa pubertas (biasanya ditandai dengan menstruasi), baru makan coklat dua potong, kok beratnya sudah tambah 1 kg. Pada kenyataannya kebanyakan wanita ingin terlihat langsing dan kurus karena mereka beranggapan bahwa menjadi kurus akan membuat mereka bahagia, sukses dan populer. Apalagi kalau melihat ‘body’ para selebritis yang langsing (sebenarnya lebih tepat dikatakan kurus-ceking- tiada berisi) sehingga kalau pakai baju model apapun terlihat pas dan pantas dipakai. Sementara kalau tubuh kita gendut, pakai baju apapun rasanya seperti sedang memakai karung terigu. Akhirnya, lingkungan sekitar juga ikut mempengaruhi. Semakin sering diledek ‘gendut’ maka dietnya semakin gencar. Maka tidak mengherankan bila ketidakpuasan seseorang dengan tubuhnya akan mengembangkan masalah pada gangguan makan. Remaja dengan gangguan makan seperti di atas memiliki masalah dengan body imagenya. Artinya, mereka sudah memiliki suatu mind set (pemikiran yang sudah terpatri di otak) bahwa tubuh mereka tidak ideal. Mereka mempersepsikan tubuhnya gemuk, banyak lemak di sana sini, tidak seksi dan lain-lain yang intinya tidak sedap untuk dipandang dan tidak semenarik tubuh orang lain. Akibat pemikiran yang sudah terpatri ini, seorang remaja akan selalu melihat tubuh mereka terkesan gemuk padahal kenyataannya justru berat badan mereka semakin turun hingga akhirnya mereka menjadi sangat kurus. Mereka akan dihantui perasaan bersalah manakala mereka makan banyak karena hal itu akan menyebabkan berat badannya naik. Masalah “body” ini akhirnya menyebabkan remaja menjadi tidak percaya diri dan sulit untuk menerima kondisi dirinya. Mereka beranggapan bahwa kepercayaan diri akan tumbuh kalau mereka juga memiliki tubuh yang sempurna (sempurna disini adalah ; kurus) (WangMuba, 2009).

E. GEJALA DAN TANDA-TANDA BULIMIA
1. Gejala-gejala bulimia nervosa adalah :
a. Rasa lelah dan lemah
b. Pembengkakan pada tangan dan kaki
c. Sakit kepala
d. Perut teras penuh
e. Mual-mual
f. Haid tidak teratur
g. Kram otot
h. Nyeri dada dan ras terbakar
i. Rambut rontok
j. Mudah mengalami perdarahan (karena hipokalemia atau disfungsi platelet)
k. Diare berdarah (pada penyalahgunaan laksan)

Bulimia nervosa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain akibat adanya obsesi seseorang untuk memiliki tubuh yang langsing, atau karena pengaruh stress emosional terhadap masalah yang dialami, atau karena faktor keturunan. Penyakit ini menyebabkan kondisi patologis pada organ tubuh seperti sistem gastrointestinal dan juga rongga mulut. Bila hal ini dibiarkan maka potensi terjadinya perubahan lebih lanjut akan bersifat permanen. Ada tiga macam tindakan yang dilakukan oleh penderita untuk mengeluarkan zat makanan dalam tubuhnya yaitu muntah yang dirangsang oleh dirinya sendiri, mengkonsumsi obat pencahar dan diuretik (obat yang dapat merangksang sekresi urine). Umumnya pasien bulimia nervosa dapat muntah tanpa adanya stimulasi mekanik, tetapi semakin banyak frekuensi muntah, risiko terjadinya gangguan kesehatan rongga mulut akan semakin berat (Putra, 2008).
Gejala umum bulimia yaitu depresi, kepercayaan diri yang rendah, penampilan yang tidak proporsional, hubungan keluarga yang terganggu, nafsu makan berkurang, sulit mengontrol emosi, mudah terjangkit penyakit, berat badan ringan dan kekurangan nutrisi. Secara umum gejala fisik yang akan dialami penderita bulimia yaitu : Abnormalitas fungsi usus, kerusakan gigi dan gusi akibat sifat asam muntah, pembengkakan kelenjar saliva di dagu akibat tekanan pada perangsangan muntah, luka di tenggorokan dan mulut, pembengkakan, dehidrasi, sering diare tanpa sebab, kelelahan, kulit kering, detak jantung tidak teratur akibat ketidakseimbangan kimiawi (defisiensi potasium), luka atau bekas luka di buku jari/tangan akibat menusukkan jari ke tenggorokan, menstruasi tidak teratur atau bahkan tidak mengalami menstruasi (amenorrhea). Seringkali tampak sehat dan sukses bahkan cenderung perfeksionis, namun penderita bulimia merasa rendah diri, tertekan, dan kadang berperilaku kompulsif. Seorang dokter di Amerika Serikat menyebutkan sepertiga pasiennya sering mengutil dan seperempatnya pernah terlibat penyalahgunaan alkohol. Gejala lain yang berkaitan dengan masalah emosi yaitu : Terus menerus melakukan pengaturan makan, merasa tidak dapat mengontrol kebiasaan makan, akan hingga merasa sakit atau tidak nyaman, memakan dalam porsi yang jauh lebih banyak dibanding yang lain, berolahraga berlebihan, menggunakan laksative, diuretik atau pencahar, terus menerus mempermasalahkan berat dan bentuk tubuh, body image negatif, pergi ke kamar mandi selama atau setelah makan, menimbun makanan, depresi, dan sering terlihat gelisah (Tyas rara, 2008).
Penderita bulimia nervosa makan dalam jumlah sangat berlebihan (menurut riset, rata-rata penderita bulimia nervosa mengonksumsi 3.400 kalori setiap satu seperempat jam, padahal kebutuhan normal hanya 2.000-3000 kalori per hari).












Kemudian berusaha keras mengeluarkan kembali apa yang telah dimakannya, dengan cara memuntahkannya kembali atau dengan menggunakan obat pencahar. Di antara kegiatan makan yang berlebihan itu biasanya mereka berolahraga secara berlebihan (Sidenfeld 2001).
2. Tanda-tanda Bulimia Nervosa adalah :
• Makan Banyak berkelanjutan
• Menguruskan badan dengan diet berlebihan, puasa, latihan berlebihan atau memuntahkan kembali
• Memaksakan diri secara berlebihan untuk kurus
• Secara berkelanjutan masuk ke kamar mandi setelah makan
• Jari-jari memerah
• Pipi lembam
• Selalu mengukur diri dengan bentuk badan dan berat badan
• Depresi atau emosi tidak stabil
• Periode menstruasi yang tidak umum
• Gigi bermasalah, seperti gigi bolong
• Mulas-mulas.
Tanda-tanda lain dari bulimia nervosa adalah :
a. Perubahan kulit : terutama bagian dorsum jari berhubungan dengan penggunaan jari untuk membuat muntah meliputi hiperpigmentasi, kalus atau luka parut.
b. Pembesaran kelenjar ludah, terutama kelenjar parotis bilateral tanpa nyeri.
c. Erosi email gigi (perimolisis), biasanya pada permukaan gigi bagian lingual, palatal dan posterior.
d. Berulang-ulang makan dalam jumlah sangat banyak (rata-rata dua kali dalam seminggu selama sedikitnya tiga bulan).
e. Merasa tidak dapat mengontrol dirinya ketika sedang makan.
f. Secara teratur menggunakan obat-obatan untuk mencegah berat badannya naik, seperti obat perangsang muntah, obat pencahar, berpuasa atau berdiet ketat, atau berolahraga secara berlebihan.
g. Sangat mencemaskan bentuk dan berat badannya (http://www.emedicine.com).

Di samping semua ini, orang-orang dengan bulimia mungkin mengeluh kelemahan umum, nyeri perut dan hilangnya siklus menstruasi. Kadang-kadang, mereka mungkin juga mengeluhkan muntah atau diare tanpa memberitahu bahwa itu adalah disebabkan diri. Pada saat makanan yang dimakan dikeluarkan, zodium dan potasium juga ikut keluar. "Kalau hal itu sampai terjadi, penderita akan menjadi lemas dan jantung berdebar-debar”. Selain itu, penderita juga dapat terkena osteoporosis jika kalsiumnya ikut keluar. Muntah secara berulang dapat merusak lambung dan saluran esofagus, saluran antara kerongkongan dan lambung, karena memaksa lambung untuk melakukan kontraksi secara tidak wajar. Asam lambung yang keluar bersama muntah, akan membuat gusi menyusut dan email gigi mengikis. "Jika kita salah mencolok di dalam tenggorokan itu akan mengakibatkan stroke ringan”.Sekali lagi, bulimia nervosa dipengaruhi oleh faktor psikologis. Jika faktor ini tak segera ditangani, si penderita bulimia akan merasa takut melihat makanan. "Dengan makan satu suap saja, dia akan merasa berat badannya bertambah”. Penyakit ini bisa membaik atau pun memburuk. Bisa semakin lama semakin buruk tanpa ada tanda-tanda perbaikan sama sekali. Tubuh penderita bereaksi terhadap kondisi ini dengan cara menghentikan beberapa proses, seperti tekanan darah menurun, napas melemah, menstruasi terhenti, dan keluar kelenjar teroid yang mengatur pertumbuhan menghilang. Kulit menjadi kering dan rambut dan kuku rapuh. Jika gangguan ini tak segera ditangani, penderita bisa meninggal dunia (Elhy, 2008).



F. CIRI-CIRI BULIMIA
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang menderita Bulimia Nervosa dapat diketahui dengan cara melihat beberapa perubahan perilaku, antara lain :
1. Rata-rata menyikat gigi lebih dari dua kali sehari, bahkan mereka dapat saja menyikat gigi sehabis muntah yaitu lebih dari 7-8 kali sehari.
2. Mengunyah permen karet 7-8 bungkus / hari, dilanjutkan dengan pemakaian mouthwash, juga mengkonsumsi minuman diet soda 10-12 kaleng/ hari, mengunyah es dan mengigit kuku.
3. Mengeluh sering pusing, haus dan pingsan bahkan disertai dengan dehindrasi yang hebat.
4. Mengeluh rasa kram pada otot dan kelelahan.
5. Jantung terasa berdebar-debar dan sakit perut.
6. Rasa sakit pada tenggorokan dan gigi lebih sensitif (iy@anz, 2009).
Selain perubahan perilaku tersebut diatas, ciri-ciri pasien bulimia nervosa juga dapat dilihat pada kondisi tubuhnya yaitu :
1. Berat badan berkurang 5-20 pon (1/2-10 kg) perminggu.
2. Bibir dan kulit didaerah sekitar mulut tampak kering.
3. Pembengkakan limfonodus dan glandula parotis.
4. Pembuluh darah pecah disekitar mata akibat tarikan dan tegangan otot karena muntah yang berulang kali.
5. Kulit kering pada daerah jari yang digunakan untuk merangsang muntah (Himawari, 2009).
G. DAMPAK DARI BULIMIA
Dampak fisik yang umumnya terjadi pada mereka :
1. Kehilangan selera makan, hingga tidak mau mengkonsumsi makanan apapun.
2. Luka pada tenggorokan dan infeksi saluran pencernaan akibat terlalu sering memuntahkan makanan.
3. Lemah, tidak bertenaga.
4. Sulit berkonsentrasi.
5. Gangguan menstruasi.
6. Kematian.
7. Erosi dan lubang pada gigi serta penyakit gusi.
8. Dehidrasi.
9. Iritasi dan pembengkakan tenggorokan.
10. Pembengkakan pada pipi.
11. Rambut rontok dan kulit kering.
12. Masalah pencernaan.
Dampak fisik secara tidak langsung juga akan mempengaruhi kondisi psikis seseorang, sehingga masalah psikologis yang muncul pada mereka adalah :
1. Perasaan tidak berharga
2. Sensitif, mudah tersinggung, mudah marah
3. Mudah merasa bersalah
4. Kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain
5. Tidak percaya diri, canggung berhadapan dengan orang banyak
6. Cenderung berbohong untuk menutupi perilaku makannya
7. Minta perhatian orang lain
8. Depresi (sedih terus menerus)
Dampak fisik maupun psikis yang dialami oleh penderita gangguan makan tersebut tentu saja tidak dapat diabaikan begitu saja. Mereka memerlukan pertolongan segera dari psikolog, dokter, ahli gizi, dan tentu saja orangtua untuk memulihkan masalahnya agar tidak membawa dampak yang lebih serius lagi, yaitu kematian. Dampak jangka panjang dari bulimia yaitu tubuh kehilangan kalsium sehingga tulang menjadi keropos, rapuh dan mudah patah. Penurunan massa tulang dapat terjadi setidaknya memerlukan waktu 6 bulan, sedangkan efek lain yaitu penurunan tekanan darah, kulit kekuningan dan penyusutan volume otak. Denyut jantung penderita biasanya tidak teratur, sehingga dapat memicu ke gagal jantung bahkan kematian. Komplikasi jangka panjang lainnya meliputi kerusakan pada tenggorokan dan esophafus (saluran dari mulut ke perut) berupa luka dan perdarahan, berkurangnya kadar tulang dan jaringan otot, gejala kurang gizi dan kelaparan, kerusakan ginjal akibat penyalahgunaan diuretika, dan gangguan pencernaan akibat obat pencahar (WangMuba, 2009).
Beberapa penelitian menjelaskan bahwa pada penderita bulimia yang parah, kadar neurotransmiternya (pengantar kimia pada otak), terutama serotonin yang berhubungan dengan depresi dan gangguan obsesif-kompulsif cenderung lebih rendah. Bahan kimia tersebut mengontrol tubuh dalam pembuatan hormon. Penderita bulimia memiliki kadar neurotransmitter serotonin dan norepinephrine yang sangat rendah. Keduanya berperan penting dalam mendorong kelenjar pituitari untuk membuat dan melepaskan hormon yang mengontrol sistem neuroendokrin yang mengatur emosi, perkembangan fisik, ingatan dan detak jantung. Ketika hormon tidak terbentuk, kerja beberapa fungsi tubuh tersebut menjadi terganggu. Penelitian lain menemukan rendahnya kadar asam amino triptofan dalam darah. Asam amino triptofan merupakan sejenis zat dalam makanan yang penting untuk produksi serotonin, yang bisa menyebabkan depresi dan mendorong terjadinya bulimia (Elhy, 2008).
Meski bulimia umumnya tidak disebabkan oleh adanya gangguan fisik, perilakunya bisa dihubungkan dengan gangguan neurologis, endokrin, dan hipotalamus. Namun masih perlu penelitian lebih lanjut sampai ditemukan bukti pasti hubungan antara sistem fisiologis tubuh dan gangguan makan. Ada kemungkinan siklus bulimia berhubungan dengan faktor biologis. Para ahli yakin, metabolisme tubuh beradaptasi terhadap siklus bulimia dengan memperlambat metabolisme, sehingga mempertinggi risiko kenaikan berat tubuh meski asupan kalori normal. Proses muntah dan penggunaan pencahar dapat merangsang pembentukan opioid alami, narkotika di dalam otak yang menyebabkan ketergantungan pada siklus. Pada umumnya para peneliti percaya bahwa faktor hereditas berpengaruh terhadap gangguan pola makan. Penelitian terhadap kembar identik dan kembar fraternal membuktikan bahwa prilaku gangguan pola makan pada kembar identik lebih besar kemungkinan terjadinya dibandingkan kembar fraternal. Hal itu disebabkan susunan genetik kembar identik sama dibandingkan kembar fraternal.
Selain itu, gangguan pola makan juga dipengaruhi oleh komponen gentika lainnya yakni neurochemistry. Para peneliti telah menemukan bahwa neurotransmitter serotonin dan norepinefrin secara signifikan menurun pada pasien yang menderita Anorexia dan Bulimia Nervosa akut. Neurotransmitter ini akan berfungsi secara abnormal pada penderita depresi. Hal ini membuktikan bahwa ada hubungan antara dua gangguan tersebut. Disamping menciptakan rasa kepuasan fisik dan emosi, neurotransmitter serotonin juga menghasilkan efek kurang nafsu makan. Bahan kimia otak juga telah diteliti pengaruhnya terhadap gangguan pola makan. Ditandai dengan meningkatnya kadar hormon vasopressin dan kortisol. Kedua hormone ini secara normal di keluarkan sebagai respon terhadap stress yang dialami oleh penderita tersebut. Pada penelitian lain ditemukan bahwa tingginya level neuropeptida dan peptide juga berpengaruh terhadap penderita Bulimia. Kedua hormon tersebut menyebabkan rangsangan untuk makan pada uji coba binatang. Kadar hormone (http://health.yahoo.com).
Jika kita berbicara tentang efek bulimia maka kita dapat melihat bahwa berulang hilangnya cairan dan gizi yang disebabkan oleh bulimia dapat membuat tubuh tidak berguna. Penderita mungkin juga merasa kelelahan dan apatis. Bahkan mungkin mengakibatkan korban, jika penyakit ini tidak diurus. Kekuatan fungsi organ internal bisa sangat terganggu oleh bulimia dan lebih mungkin suatu organ mungkin gagal bekerja (http://www.eaRticlesOnline.com).

H. TERAPI
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kelainan dalam pola makan seperti kelainan genetik, tekanan sosial untuk menjadi langsing, tekanan dari teman sebaya, dan lain-lain. Penerimaan dari lingkungan merupakan langkah awal penyembuhan kelainan bulimia. Kebanyakan penderita tetap tinggal dalam penyangkalan dan menolak untuk ditolong. Langkah penyembuhan lain adalah dengan melakukan psikoterapi pada penderita, keluarga maupun lingkungan tempat penderita berasal. Pemberian obat, termasuk antidepresan, kadang-kadang dibutuhkan dalam situasi tertentu. Terapi gizi juga penting sebagai asupan vitamin dan mineral bagi penderita. Namun jika langkah-langkah tersebut tidak membawa hasil, satu-satunya cara yaitu dengan membawa penderita ke rumah sakit untuk diopname, terutama bagi penderita anoreksia. Itu dilakukan jika berat badan penderita menurun hingga 25% dari berat normal atau jika organ-organ vital dalam tubuh mengalami cedera. Ingatlah bahwa pola makan sehat adalah cara hidup yang terbaik. Jangan biarkan diri kita di bawah tekanan sosial atau teman sebaya. Satu lagi yang terpenting, tetaplah percaya diri sebab nilai personaliti kita tidak ditentukan oleh seberapa kurus atau gemuknya tubuh kita.
Terapi bulimia nervosa terdiri dari berbagai intervensi, termasuk Psikotherapi individual dengan pandekatan kognitif perilaku, therapi kelompok, therapi keluarga dan farmakotherapi.
1. Psikotherapi
Umumnya dokter melakukan terapi kognitif, yang bertujuan merubah persepsi dan cara berpikir pasien mengenai tubuhnya. Dokter mendorong pasien untuk berpikir secara benar terhadap dirinya sehingga menjadi lebih obyektif melihat suatu masalah, dan menghilangkan sikap serta reaksi yang salah terhadap makanan (Purwanti, 2008).
1). Memberi kepercayaan kepada pasien sehingga pasien mau bekerjasama dalam pengobatan.
Pasien bulimia nervosa biasanya terlihat begitu antusias untuk menjalankan pengobatan. Namun kenyataannya dia cenderung menggunakan caranya sendiri dan tetap berusaha memoertahankan kebiasaannya. Jadi sebelum pengobatan sang dokter harus memberikan kepercayaan dan meyakinkan pasien tentang pengobatan yang akan dijalaninya.
2). Menghentikan kebiasaan makan yang salah dan episode muntah serta diare.
Hal ini dapat dilakukan dengan membatasi jumlah dan jenis makanan pasien bulimia nervosa. Namun sedikit sulit bila pasien tinggal dirumah tanpa pengawasan.
3). Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mempertahankan keadaan yang sudah membaik :
a) Setelah pengobatan biasanya pasien akan mengulangi kebiasaannya untuk makan lagi, maka kita jangan menentangnya, tapi kita anggap bahwa hal itu merupakan respon yang fisiologis.
b) Agar pasien mau makan, maka kita katakankepadanya bahwa rasa lapar yang timbul itu, karena tubuhnya memerlukan nutrisi.
c) Kalau pengobatan berhasil, maka pasien akan mengurangi ketergantungan terhadap kebiasaan jeleknya dan gejala depresinya akan teratasi, ini dapat berlangsung untuk beberapa bulan. Oleh karena kebiasaan makan yang jelek pada bulimua nervosa ini mudah berulang kembali, maka pengobatan yang paling efektif adalah dengan memberikan rasa paercaya diri kepada pasien terhadap penampilan dan berat badannya.
2. Farmakotherapi.
Untuk penderita bulimia umumnya diberikan obat-obatan jenis antidepresan bersama dengan pengobatan psikoterapi. Obat yang diberikan umumnya dari jenis trisiklik seperti imipramine (dengan merek dagang Tofranil) dan desipramine hydrochloride (Norpramin); atau jenis selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) seperti fluoxetine (Antiprestin, Courage, Kalxetin, Nopres, dan Prozac), sertraline (Zoloft), dan paroxetine (Seroxat).
Semua obat itu digunakan sebagai bagian dari suatu program therapi yan g menyeluruh dengan psikotherapi. Khusus bagi pasien dengan cemas dan agitasi dapat diberikan lorazepam (Ativan) 1-2 mg per oral atau IM. Berat badan kerap menjadi masalah bagi kebanyakan orang dan ini memicu kemunculan berbagai cara untuk mengurangi atau mempertahankan berat badan. Tetapi, karena ingin mengharapkan hasil instan, kebanyakan orang pun kemudian memilih cara singkat : memuntahkan makanan yang baru saja dikonsumsi. Ini adalah salah satu tindakan yang mengindikasikan kalau orang tersebut bulimia nervosa yaitu dilakukan untuk menghindari penambahan berat badan. "Pencegahan" itu bisa dilakukan dengan memuntahkan makanan, mengonsumsi obat pencahar, berpuasa, atau berolahraga berlebihan segera setelah makan kenyang. Bulimia sangat buruk bagi kesehatan. Ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang dialami penderitanya setelah melakukan "pencegahan-pencegahan" tersebut secara terus-menerus, seperti :
• Perut berfungsi tidak seperti biasanya (abnormal).
• Gigi dan gusi rusak.
• Wajah menjadi tirus.
• Gangguan di tenggorokan dan mulut.
• Perut kembung.
• Dehidrasi.
• Rasa lelah.
• Kulit kering.
• Detak jantung tidak teratur.
• Rasa sakit di buku jari.
• Menstruasi tidak teratur atau tidak menstruasi sama sekali.
Selain gejala fisik, penderita bulimia juga akan memperlihatkan gejala-gejala psikis dan emosional, di antaranya :
• Diet yang dilakukan secara konstan.
• Penderita merasa tidak dapat mengendalikan pola makannya.
• Terus makan hingga merasa sakit atau tidak nyaman.
• Makan lebih banyak pada saat pesta.
• Berolahraga selama berjam-jam setelah makan banyak.
• Menggunakan pencahar dengan tidak semestinya.
• Rendah diri karena berat dan ukuran badan.
• Memiliki pencitraan diri yang negatif.
• Selalu ke toilet/kamar mandi setiap selesai makan.
• Menimbun makanan.
• Mengalami depresi.
• Merasa cemas (http://www.eaRticlesOnline.com).
3. Terapi psikis
Terapi bulimia biasanya meliputi konseling dan terapi tingkah laku. Sebagian besar gangguan makan permasalahannya bukanlah pada makanan itu sendiri, tetapi pada kepercayaan diri dan persepsi diri. Terapi akan efektif jika ditujukan pada penyebabnya, bukan pada gangguan makannya. Terapi individu, dikombinasikan dengan terapi kelompok dan terapi keluarga seringkali sangat membantu. Terapi kelompok adalah terapi dimana penderita penyakit yang sama saling membagi pengalaman mereka. Terapi konseling seringkali harus dikombinasikan dengan obat antidepresan. Terapi ini untuk membantu pasien yang depresi, terganggu secara emosional, atau adanya faktor sosial sehingga mendorong terjadinya gangguan makan. Terapi dilaksanakan agar pasien mampu mengeluarkan perasaan dan permasalahannya sehingga terapis dapat membantu penderita menghadapi perubahan hidup dan memperkuat rasa percaya diri.

4. Terapi oral yang dapat dilakukan penderita bulimia nervosa :
• Untuk mencegah erosi dan karies pada gigi, pasien dianjurkan tidak menyikat gigi lagi setelah muntah, namun berkumur dengan sodium fluorida 0,05%, alkaline mineral water, sodium bikarbonat, atau magnesium hidroksida untuk menetralkan asam pada rongga mulut.
• Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula atau karbohidrat, sebab meningkatkan terjadinya risiko karies.
• Mengunyah permen karet rendah gula untuk meningkatkan produksi saliva atau menggunakan saliva sintetik seperti glosodane.
• Gunakan pasta gigi, obat kumur, atau gel yang mengandung fluorida untuk mengurangi rasa sensitif pada gigi dan sebagai pertahanan terhadap karies.
• Menyikat gigi tiga kali sehari dan melakukan flossing untuk mengurangi plak pada gigi.
5. Terapi nutrisi
Ahli gizi dapat mengatur jadwal makan, memberikan penjelasan mengenai tujuan terapi nutrisi, pentingnya diet sehat dan akibat buruk dari pola makan yang salah terhadap kesehatan. Pengaturan diet untuk penderita bulimia nervosa dilakukan secara bertahap tergantung tingkat keparahan serta ada tidaknya komplikasi dengan penyakit penyerta. Kebutuhan energi disesuaikan dengan umur dan jenis kelamin, dihitung berdasarkan berat badan ideal, bukan berat badan yang sebenarnya. Selain dengan pengaturan makan yang sehat dan berimbang diperlukan juga olahraga secara tepat dan teratur. Olahraga yang teratur dapat menormalkan kembali kerja kelenjar yang abnormal sehingga akan diperoleh kadar serotonin yang sesuai dengan kebutuhan penderita (Angelia, 2009).

I. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan mengamati ada-tidaknya gejala pada keluarga maupun orang-orang terdekat. Ketika beberapa gejala ditemui dapat dilakukan pendekatan secara interpersonal, berempati dan mendorong untuk makan dan berolahraga secara normal, serta memberitahukan dampak negatif bulimia. penderita bulimia tidak dapat sembuh dengan sendirinya oleh karena itu tindakan pertolongan yang harus segera diberikan yaitu disarankan untuk berkonsultasi langsung ke para ahli kesehatan. Secara umum penderita penyakit ini jarang hingga perlu dirawat di rumah sakit, kecuali keadaannya sudah terjadi komplikasi yang parah. Pengobatan pun akan berbeda antar orang. Kesesuaian dengan seseorang belum tentu akan sesuai pula dengan orang lain. Selama pengobatannya diperlukan kelompok terapis dari berbagai keahlian, yang dapat membantu pasien dalam menghadapi masalah medis, psikologis, dan gizi. Pencegahan terjadinya bulimia nervosa terdiri atas dua bagian :
1. Program pencegahan primer
Pencegahan ini langsung ditujukan pada populasi berisiko tinggi seperti murid wanita SMP untuk mencegah timbulnya gangguan makan pada mereka yang asimtomatik. Pencegahan yang dilakukan dapat berupa program pendidikan mengenai sikap dan prilaku terhadap remaja.
2. Program pencegahan sekunder
Pencegahan ini bertujuan untuk deteksi dan intervensi dini, dengan memberikan pendidikan pada petugas kesehatan di pusat pelayanan kesehatan primer.
Selain diatas untuk mencegah terjadinya gangguan makan berupa bulimia nervosa dapat juga dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya:
1. Rajin berkonsultasi dengan dokter
2. Tingkatkan rasa percaya diri
3. Tingkatkan dinamika lingkungan. Usahakan agar tercipta suasana yang nyaman dan kondusif di lingkungan keluarga atau pekerjaan
4. Bersikap realistis. Jangan mudah percaya pada apa yang digambarkan oleh media tentang berat dan bentuk badan ideal
Prinsip penatalaksanaan Bulimia nervosa adalah :
1. Fokus utama pengobatan adalah menurunkan pola makan ala bulimik
2. Hindari makanan yang merangsang pola makan binge seperti es krim
3. Obati depresi yang niasanya menyertai bulimia
4. Libatkan para remaja dalam psikoterapi individu dengan atau tanpa melibatkan keluarga
5. Latihan olahraga yang ringan samapi sedang diberikan obat antidepresan
6. Terapi kelompok sangat membantu penyembuhan
7. Bila penderita menggunakan diuretik, berikan diet rendah garam karena terjadi retensi cairan bila diuretik dihentikan
8. Konsultasi ke dokter gigi untuk menangani kerusakan pada gigi (Angelia, 2009).

J. KESIMPULAN
 Penyebab bulimia belum diketahui secara pasti hanya saja secara umum dapat terjadi karena peran berbagai faktor (psikologis, lingkungan, genetik).
 Sehingga penatalaksanaannya dilakukan dengan menerapkan berbagai terapi antara lain : terapi nutrisi, konseling, dan psikoterapi.

K. SARAN
Bagi remaja yang mengalami bulimia nervosa hendaklah makan secara normal, diet seimbang dan bila menginginkan penurunan berat badan, mulailah dengan bimbingan ahli gizi. Yang paling penting bagi remaja adalah harus percaya diri dengan apa yang terdapat pada dirinya.

L. DAFTAR PUSTAKA

1. Angelia, Silvia. 2009. Bulimia nervosa. http://www.pojokgizi.com. Diunduh pada hari Kamis, 16 Juli 2009. 02:31 AM.
2. Elhy. 2008. Bulimia Nervosa. http://www. bulimia-nervosa.com. Diunduh pada hari Jum’at, 21 maret 2008. 02:17 AM.
3. FKM-UI, 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
6. Gowers SG. 2004. Eating disorders in childhood and adolescence. J Pediatr Obstetr Gynaecol.
7. Himawari, Nissa Nihaya. 2009. Anoreksia nervosa vs. Bulimia nervosa. http://www.Anoreksia_Nervosa_vs._Bulimia_Nervosa.com. Diunduh pada tanggal 21 Maret 2009. 12:28 AM.
8. Iy@anz. 2009. Apakah anoreksia dan Bulimia itu. http://www.info-sehat.com/content.php?s_sid=787 . Diunduh pada hari Rabu, 02 Desember 2009. 12:01:12 AM.
9. Paisal. 2008. Bulimia. http://www.wartamedika.com. Diunduh pada tanggal 14 pebruari 2008.
10. Purwanti. 2008. Terapi Untuk Bulimia Nervosa. http://www.micom@mediaindonesia.com. Diunduh pada hari Rabu, 23 Juli 2008. 18:00 WIB.
11. Putra, dr. Deddy Satriya. 2008. Muntah Pada Anak. http://www.dr-rocky.com. Diunduh pada hari Rabu, 02 Juli 2008. 07:00 AM.
12. Sakura. 2009. Bulimia Nervosa. http://www.bulimia-nervosa.com. Diunduh pada hari Sabtu, 25 Juli 2009.
13. Sidenfeld, M.K. and Ricket. 2001. Impact of Anorexia, bulimia and obesity on the gynecologic of adolescent. Mount sinai adolescent health. New York.
14. Tyas rara. 2008. Bulimia Nervosa. http://www.bulimia_nervosa.com. Diunduh pada tanggal 17 Desember 2008. 5:09 AM.
15. WangMuba. 2009. Anaroxia Nervosa, bulimia, dan Tubuh yang Ideal. http://www.Anorexia Nervosa, Bulimia, dan Tubuh yang Ideal _ wangmuba.com. Diunduh pada tanggal 14 April 2009.
16. Yudhi. 2008. Anoreksia versus Bulimia. http://www.Yudhi’m.com. Diunduh pada tanggal 29 Januari 2008.
17. http://www.eaRticlesOnline.com.
18. http://www.emedicine.com.
19. http://www.health.yahoo.com.
20. http://www.medicastore.com.

MAKALAH

ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
PERKEMBANGAN MUTAKHIR TENTANG HIV atau AIDS








Disusun oleh :
1. Ambar Wicaksono (P0 7131107009)
2. Beti Nur Utami (P0 7131107008)
3. Dewi Nurwidianti (P0 7131107012)
4. Ignasia Ika (P0 7131107020)
5. Listya Drasthyani P. (P0 7131107023)
6. Nur Arifah (P0 7131107027)
7. Nurvita Yuliana Dewi (P0 7131107029)

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
GIZI REGULER III
2009
A. PENDAHULUAN
Berlawanan dengan kebanyakan masalah kesehatan yang ada sekarang ini dimana biasanya menyerang anak muda atau orang-orang tua, tetapi penyakit AIDS menyerang golongan umur 20-49 tahun. Dengan mempertimbangkan bahwa umur-umur demikian itu adalah umur-umur paling produktif. Jadi untuk negara-negara berkembang AIDS akan mengancaman peningkatan derajat kesehatan (WHO, 1997).
Di Indonesia sendiri, jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat. Secara nasional, jumlah warga negara Indonesia yang terinfeksi HIV mencapai 18.442 orang dan 34.000 orang positif AIDS (Parjiyono, 2009). Sedangkan jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh kabupaten/kota di Indonesia pada 2010 diperkirakan mencapai 93 ribu sampai 130 ribu orang dan prinsip fenomena gunung es yang berlaku mengatakan, jumlah penderita HIV/AIDS yang tampak hanyalah 5-10 persen dari jumlah keseluruhan (Jonathan,2009).
Penyakit AIDS merupakan penyakit kekebalan yang bersifat terminal akibat infeksi retrovirus yang dikenal dengan nama virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit AIDS (Aquired Immunodeficiency Syndrome) akan menimbulkan keadaan imunodefisiensi (penurunan kekebalan tubuh). Sementara itu, status gizi dan imunitas atau kekebalan berhubungan erat. Keadaan malnutrisi akan menggangu fungsi kekebalan sehingga tubuh tidak dapat melawan infeksi. Sebaliknya infeksi akan meningkatkan risiko malnutrisi (Hartono, 2006).
Setiap hari, 14.000 orang terinfeksi HIV, virus yang menyebabkan AIDS. Tidak ada obatnya, tapi sekarang terobosan sebuah mesin yang bisa membersihkan darah, menjaga semakin banyak orang yang hidup lebih lama.
Penyakit menular ahli merancang sebuah mesin yang disebut hemopurifier. Cara kerjanya mirip mesin dialisis, menggunakan serat tipis untuk menangkap dan menghilangkan virus dari darah itu filter. Mesin memerlukan gambar darah melalui arteri, yang dikirim melalui pipa ke dalam mesin, lalu kembali ke dalam tubuh. Ini dapat mengobati sejumlah penyakit.
The hemopurifier menggunakan antibodi untuk menghapus virus sebagai penyaring darah melaluinya. Ini dirancang untuk menyaring virus dan racun sebelum mereka menyerang organ. Metode ini sangat mirip dengan dialisis, dan dapat digunakan untuk membantu pasien dengan HIV, hepatitis C, campak, gondok, flu, dan banyak lagi. Dapat juga mulai bekerja sebelum dokter mengidentifikasi penyebab penyakit.
B. ETIOLOGI
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang merusak dari system kekebalan tubuh manusia, sehingga orang yang terkena penyakit tersebut mudah terkena berbagai penyakit menular. Kepanjangan dari huruf-huruf yang terdapat dalam AIDS, yaitu Acquried (didapat), ditularkan dari satu orang ke orang lain. Bukan penyakit bawaan. Immune (kebal), system pertahanan/kekebalan tubuh, yang melindungi tubuh terhadap infeksi. Deficiency (kekurangan), menunjukkan adanya kadar atau nilai yang lebih rendah dari normal biasanya. Syndrome (sindrom), suatu kumpulan tanda atau gejala yang bila didapatkan secara bersamaan, menunjukkan bahwa seseorang mengidap suatu penyakit/keadaan tertentu (Depkes,1997).
HIV ini sangat lemah dan mudah mati di luar tubuh manusia. Virus ini merusak salah satu jenis sel darah putih yang dikenal sebagai sel T helper dan sel tubuh lainnya antara lain sel otak,sel usus dan sel paru. Sel T helper merupakan titik pusat system pertahanan tubuh, sehingga infeksi HIV menyebabkan daya tahan tubuh menjadi rusak (Depkes,1988).
Penularan virus ini terjadi lewat pertukaran cairan tubuh atau darah antara pasien AIDS dengan orang sehat seperti lewat senggama atau pemakaian jarum suntik dan transfusi produk darah yang terinfeksi AIDS, atau terjadi dari ibu kepada bayinya saat hamil, melahirkan atau menyusui (Hartono, 2006).
AIDS adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya karena mempunyai Case Fatality Rate 100% dalam 5 tahun, artinya dalam waktu 5 tahun setelah diagnosis AIDS ditegakkan, semua penderita akan meninggal (Depkes,1997).



C. PATOFISIOLOGI
Penyakit HIV dimulai dengan infeksi akut yang hanya dikendalikan sebagian oleh respon imun spesifik dan berlanjut menjadi infeksi kronik progresif pada jaringan limfoid perifer. Perjalanan penyakit dapat dipantau dengan mengukur jumlah virus dalam serum pasien dan menghitung jumlh sel T CD4 + dalam darah tepi. Bergantung pada lokasi masuknya virus kedalam tubuh,sel T CD4 + dan monosit dalam darah atau sel T CD4 + dan makrofag dalam jaringan mukosa merupakan sel-sel pertama yang terinfeksi. Besar kemungkinan bahwa sel dendritik berperan dalam penyebaran awal HIV dalam jaringan limfoid, karena fungsi normal sel dendritik adalah menangkap antigen dalam jaringan epitel lalu masuk kedalam getah bening. Setelah berada dalam kelenjar getah bening, sel dendritik meneruskan virus kepada sel T melalui kontak antar sel. Dalam beberapa hari saja jumlah virus dalam kelenjar berlipat ganda dan mengakibatkan viremia. Pada saat itu jumlah partikel HIV dalam darah banyak sekali disertai sindrom HIV akut. Viremia menyebabkan virus menyebar di seluruh tubuh dna menginfeksi sel T, monosiT atau makrofag dalam jaringan limfoid perifer. System imun spesifik kemudian akan berupaya mengendalikan infeksi yang tampak dari menurunnya kadar viremia, walaupun masih tetap dapat dideteksi.
Setelah infeksi akut, berlangsunglah fase kedua dimana kelenjar getah bening dan limpa merupakan tempat replikasi virus dan destruksi jaringan secara terus menerus. Selama periode ini system imun dapat mengendalikan sebagian besar infeksi,kareena itu fase ini disebut fase laten. Hanya sedikit virus diproduksi selama fase laten dan sebagian besar sel T dalam darah tidak mengandung virus. Walaupun demikian, destruksi sel T dalam jaringan limfoid terus berlangsung sehinga jumlah sel T semakin lama semakin menurun. Jumlah sel T dalam jaringan limfoid adalah 90% dari jumlah sel T di seluruh tubuh. Pada awalnya sel T dalam jaringan perifer yang rusak oleh virus HIV diganti oleh sel baru tetapi destruksi sel oleh virus HIV yang terus bereplikasi dan menginfeksi sel baru selama masa laten akan menurunkan jumlah sel T dalam darah tepi.
Selama masa kronik progresif, respons imun terhadap infeksi lain akan merangsang produksi HIV dan mempercepat destruksi sel T. Selanjutnya penyakit menjadi progresif dan mencapai fase letal yang disebut AIDS, pada saat dimana destruksi sel T dalam jaringan limfoid perifer lengkap dan jumlah sel T dalam darah tepi menurun hingga dibawah 200 per mm3 viremia meningkat drastic karena replikasi virus dibagian lain dalam tubuh meningkat. Pasien menderita infeksi oportinistik, cacheexia, keganasan dan degenerasi susunan saraf pusat. Kehilangan limfosit Th menyebabkan pasien peka terhadap berbagai jenis infeksi dan menunjukan respons imun yang inefektif terhadap virus onkogenik.

D. GEJALA
Menurut WHO,1997 gejala dan tanda-tanda klinis dari infeksi HIV ini merupakan gejala yang sangat kompleks. Infeksi HIV dapat dibagi dalam 4 tingkat, dimana tidak terjadi semuanya pada penderita yang terinfeksi. Tingkat-tingkat ini adalah :
1. Fase akut
Fase ini dapat terjadi kira-kira 1 minggu setelah terkena infeksi dan biasanya perubahan serologis akan terjadi 6-12 minggu atau lebih setelah terinfeksi. Menurut beberapa penelitian, manistefasi klinis dari fase akut ini adalah terjadinya demam, pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, kelainan kulit, sakit kepala dan batuk.

2. Fase tak bergejala / asimtomatik
Selama periode ini, orang yang terinfeksi HIV mungkin tidak memperlihatkan gejala atau pada sebagian kasus mengalami limfademopati atau yang disebut Persistent Generalized Lymphademopathy (pembengkakan kelanjar getah bening persisten) (Corwin:2000).

3. AIDS related compelx / ARC
Fase ini ditandai oleh adanya beberapa gejala dan tanda-tanda yang biasanya dipertimbangkan sebagai gejala khas dari ARC, yaitu : diare, penurunan berta badan, malas, lelah dan lemas, hilangnya nafsu makan, rasa tidak enak di perut, demam, keringat malam, sakit kepala, pembesaran kelenjar getah bening dan limpa serta perubahan susunan syaraf yang ditandai oleh kehilangan ingatan dan gejala gangguan syaraf tepi.


4. AIDS
Tenggang waktu yang terjadi antara infeksi dengan HIV dan timbulnya gejala AIDS bervariasi antara 6 bulan sampai 7 tahun atau lebih.
Gejala-gejala yang khas adalah terjadinya infeksi oportunistik dan tumor seperti Sarkoma Kaposi, yang terjadi karena timbulnya sel-sel immunodefisiensi dalam jumlah yang besar yang diakibatkan oleh HIV. Tanda dan gejala yang terjadi pada penderita dengan ARC, dapat juga terjadi pada penderita dengan AIDS tetapi tampak klinisnya menjadi lebih besar.
Gejala dan tanda-tanda ini biasanya hilang timbul secara berkala. Penurunan berat badan dapat ditemui pada hampir semua penderita dan biasanya terjadi cepat sekali.
Gejala yang menimbulkan dampak negative paling besar pada status gizi klien, berhubungan dengan saluran gastrointestinal dan menurukan asupan oral. Gejal-gejala ini mencakup anoreksia, xerostomia, gangguan pengecap, disfagia, keletihan, mual/muntah, diare, malabsorpsi dan konstipasi (Wilkes, 2000).

E. TERAPI
1. Terapi Obat/Terapi antivirus
Penanganan infeksi HIV terkini adalah terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART). Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orang-orang yang terinfeksi HIV sejak tahun 1996, yaitu setelah ditemukannya HAART yang menggunakan protease inhibitor. Pilihan terbaik HAART saat ini, berupa kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut "koktail) yang terdiri dari paling sedikit dua macam (atau "kelas") bahan antiretrovirus. Kombinasi yang umum digunakan adalah nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) dengan protease inhibitor, atau dengan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada anak-anak daripada pada orang dewasa, maka rekomendasi perawatannya pun lebih agresif untuk anak-anak daripada untuk orang dewasa. Di negara-negara berkembang yang menyediakan perawatan HAART, seorang dokter akan mempertimbangkan kuantitas beban virus, kecepatan berkurangnya CD4, serta kesiapan mental pasien, saat memilih waktu memulai perawatan awal.
Perawatan HAART memungkinkan stabilnya gejala dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien, tetapi ia tidak menyembuhkannya dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya. HIV-1 dalam tingkat yang tinggi sering resisten terhadap HAART dan gejalanya kembali setelah perawatan dihentikan. Lagi pula, dibutuhkan waktu lebih dari seumur hidup seseorang untuk membersihkan infeksi HIV dengan menggunakan HAART. Meskipun demikian, banyak pengidap HIV mengalami perbaikan yang hebat pada kesehatan umum dan kualitas hidup mereka, sehingga terjadi adanya penurunan drastis atas tingkat kesakitan (morbiditas) dan tingkat kematian (mortalitas) karena HIV.
Tanpa perawatan HAART, berubahnya infeksi HIV menjadi AIDS terjadi dengan kecepatan rata-rata (median) antara sembilan sampai sepuluh tahun, dan selanjutnya waktu bertahan setelah terjangkit AIDS hanyalah 9.2 bulan. Penerapan HAART dianggap meningkatkan waktu bertahan pasien selama 4 sampai 12 tahun. Bagi beberapa pasien lainnya, yang jumlahnya mungkin lebih dari lima puluh persen, perawatan HAART memberikan hasil jauh dari optimal. Hal ini karena adanya efek samping/dampak pengobatan tidak bisa ditolerir, terapi antiretrovirus sebelumnya yang tidak efektif, dan infeksi HIV tertentu yang resisten obat. Ketidaktaatan dan ketidakteraturan dalam menerapkan terapi antiretrovirus adalah alasan utama mengapa kebanyakan individu gagal memperoleh manfaat dari penerapan HAART.

2. Terapi Diet
Menurut Almatsier (2005), terapi diet untuk penderita HIV/ AIDS memiliki tujuan, syarat, dan jenis serta indikasi sebagai berikut :
a. Tujuan terapi diet
1) Tujuan umum
a) Memberikan intervensi gizi secara cepat dengan mempertimbangkan seluruh aspek dukungan gizi pada semua tahap dini penyakit infeksi HIV.
b) Mencapai dan mempertahankan berat badan serta komposisi tubuh yang diharapkan, terutama jaringan otot (Lean Body Mass).
c) Memenuhi kebutuhan energy dan semua zat gizi.
d) Mendorong perilaku sehat dalam menerapkan diet, olahraga dan relaksasi.
2) Tujuan khusus
a) Mengatasi gejala diare, intoleransi lakstosa, mual dan muntah.
b) Meningkatkan kemampuan untuk memusatkan perhatian, yang terlihat pada : pasien dapat membedakan antar gejala anorexia, perasaan kenyang, perubahan indera pengecap dan kesulitan menelan.
c) Mencapai dan mempertahankan berat bdan normal.
d) Mencegah penurunan berat badan yang berlebihan (terutama jaringan otot).
e) Memberikan kebebasan pasien untuk memilih makanan yang adekuat yang sesuai dengan kemampuan makan dan jenis terapi yang diberikan.

b. Syarat terapi diet
1) Energy tinggi. Pada perhitungan kebutuhan energy, diperhatikan factor stress, aktifitas fisik dan kenaikan suhu tubuh. Tambahkan energy sabanyak 13% untuk setiap kenaikan suhu 10 C.
2) Protein tinggi, yaitu 1,1-1,5 g/Kg BB untuk memelihara dan mengganti jaringan sel tubuh yang rusak. Pemberian protein disesuaikan bila ada kelainan ginjal dan hati.
3) Lemak cukup, yaitu 10-25% dari kebutuhan energy total. Jenis lemak disesuaikan dengan toleransi pasien. Apabila ada malabsorbsi lemak digunakan lemak dengan ikatan rantai sedang (Medium Chain Trigliserida/ MCT). Minyak ikan (Asam Lemak Omega3) diberikan bersama minyak MCT dapat memperbaiki fungsi kekebalan.
4) Vitamin dan mineral tinggi, yaitu 1½ kali (150%) angka kecukupan gizi yang diajnurkan, terutama vitamin A, B12, C, E, Folat, Kalsium, Magnesium, Seng dan Selenium.
5) Serat cukup, gunakan serat yang mudah cerna.
6) Cairan cukup, sesuai dengan keadaan pasien. Pada pasien engan gangguan fungsi menelan, pemberian cairan harus hati-hati dan diberikan bertahap dengan konsistensi yang sesuai. Konsistensi cairan dapat berupa cairan kental (Thick fluid), semi kental (Semi thick fluid) dan cair (Thin fluid).
7) Elektrolit. Kehilangan elektrolid melalui muntah dan diare perlu diganti (Natrium, Kalium dan Klorida).
8) Bentuk maknan dimodifikasi sesuaid dengan keadaan pasien. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan cara pendekatan perorangan, dengan melihat kondisi dan toleransi pasien. Apabila terjadi penurunana berat badan yang cepat, maka dianjurkan pemberian makanan melalui pipa atau sonde sebagai makanan utama atau makanan selingan.
9) Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering.
10) Hindari makanan yang merangsang pencernaan baik secara mekanik, termik maupun kimia.

c. Jenis diet dan indikasi pemberian
Diet AIDS diberikan pada pasien akut setelah terkena infeksi HIV, yaitu kepada pasien dengan :
1) Infeksi HIV positif tanpa gejala.
2) Infeksi HIV dengan gejala (misalnya : panas lama, batuk, diare, kesulitan menelan, sariawan dan pembesaran kelenjar getah bening).
3) Infeksi HIV dengan gangguan syaraf.
4) Infeksi HIV dengan TBC.
5) Infeksi HIV dengan Kanker dan HIV Wasting Syndrome.
Makanan untuk pasien AIDS dapat diberikan melalui tiga cara, yaitu secara oral, enteral (sonde) dan parenteral (infuse). Asupan makanan secara oral sebaiknya dievaluasis secara rutin. Bila tidak mencukupi, dianjurkan pemberian makanan enteral atau parenteral sebagai tambahan atau sebagai makanan utama. Ada tiga macam diet AIDS yaitu Diet AIDS I, II dan III.
1) Diet AIDS I
Diet ini diberikan pada pasien infeksi HIV akut, dengan gejala panas tinggi, sariawan, kesulitan menelan, sesak nafas berat, diare akut, kesadarn menurun, atau segera setelah pasien dapat diberi makan.
Makanan berupa cairan dan bubur susu, diberikan selama beberapa hari sesuai dengan keadaan pasien, dalam porsi kecil setiap tiga jam. Bila ada kesulitan menelan, makanan diberikan dalam bentuk sonde atau dalam bentuk kombinasi makanan cair dengan makanan sonde. Makanan sonde dapat dibuat sendiri atau menggunakan makanan enteral komersial energy dan protein tinggi. Makanan ini cukup Energy, Zat besi, Tiamin dan Vitamin C. Bila dibutuhkan lebih banyak energy dapat ditambahkan glukosa polimer (misalnya Poyijoule).
2) Diet AIDS II
Diet ini diberikan sebagai perpindahan Diet AIDS I setelah tahap akut teratasi. Makanan diberikan dalam bentuk saring atau cincang setiap tiga jam. Makanan ini rendah nilai gizinya dan membosankan. Untuk memenuhi kebutuhan energy dan zat gizi diberikan makanan enteral atau sonde sebagai tambahan atau sebagai makanan utama.
3) Diet AIDS III
Diet ini diberikan sebagai perpindahan dari Diet AIDS II atau kepada pasien dengan infeksi HIV tanpa gejala. Bentuk makanan lunak atau biasa, diberikan dalam porsi kecil dan sering. Diet ini tinggi energy, protein, vitamin dan mineral. Apabila kemamuan makanan melaui mulut terbatas dan masih tejadi penurunan berat badan, maka dianjurkan pemberian makanan sonde sebagai makanan tambahan atau sebagai makanan utama.

3. Terapi Mutakhir
Penyakit menular ahli merancang sebuah mesin yang disebut hemopurifier. Cara kerjanya mirip mesin dialisis, menggunakan serat tipis untuk menangkap dan menghilangkan virus dari darah itu filter. Mesin memerlukan gambar darah melalui arteri, yang dikirim melalui pipa ke dalam mesin, lalu kembali ke dalam tubuh. Ini dapat mengobati sejumlah penyakit.
The hemopurifier menggunakan antibodi untuk menghapus virus sebagai penyaring darah melaluinya. Ini dirancang untuk menyaring virus dan racun sebelum mereka menyerang organ. Metode ini sangat mirip dengan dialisis, dan dapat digunakan untuk membantu pasien dengan HIV, hepatitis C, campak, gondok, flu, dan banyak lagi. Dapat juga mulai bekerja sebelum dokter mengidentifikasi penyebab penyakit.


F. DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH

MAKALAH DIET LANJUT
”GAGAL JANTUNG”









Disusun Oleh :
Gizi Reguler Tk III
1. Ambar Wicaksono ( PO 7131107002 )


DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN GIZI
2009


GAGAL JANTUNG

A. DEFINISI
Gagal jantung adalah suatu keadaan dimana jantung tidak lagi mampu memompa darah ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, walaupun darah balik masih normal. Dengan kata lain, gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolic tubuh ( forward failure ), atau kemampuan tersebut hanya dapat terjadi dengan tekanan pengisian jantung yang tinggi (backward failure), atau kedua-duanya.
Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik di mana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Ciri-ciri yang penting dari definisi ini adalah pertama, definisi gagal adalah relatif terhadap kebutuhan metabolisme tubuh, dan kedua, penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan.
Gagal Jantung (Heart Failure) adalah suatu keadaan yang serius, dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya (cardiac output, curah jantung) tidak mampu memenuhi kebutuhan normal tubuh akan oksigen dan zat-zat makanan.

B. ETIOLOGI
Keadaan ini dapat disebabkan oleh karena gangguan primer otot jantung atau beban jantung yang berlebihan atau kombinasi keduanya
Terdapat tiga kondisi yang mendasari terjadinya gagal jantung, yaitu :
a) Gangguan mekanik
Beberapa faktor yang mungkin bisa terjadi secara tunggal atau bersamaan yaitu :
• Beban tekanan
• Beban volume
• Tamponade jantung atau konstriski perikard, jantung tidak dapat diastole
• Obstruksi pengisian ventrikel
• Aneurisma ventrikel
• Disinergi ventrikel
• Restriksi endokardial atu miokardial
b) Abnormalitas otot jantung
• Primer : kardiomiopati, miokarditis metabolik (DM, gagal ginjal kronik, anemia) toksin atau sitostatika.
• Sekunder: Iskemia, penyakit sistemik, penyakit infiltratif, korpulmonal
c) Gangguan irama jantung atau gangguan konduksi
Di samping itu penyebab gagal jantung berbeda-beda menurut kelompok umur, yakni pada masa neonatus, bayi dan anak.
Setiap penyakit yang mempengaruhi jantung dan sirkulasi darah dapat menyebabkan gagal jantung. Beberapa penyakit dapat mengenai otot jantung dan mempengaruhi kemampuannya untuk berkontraksi dan memompa darah.
Penyebab paling sering adalah penyakit arteri koroner, (myocardial infarction atau serangan jantung) yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otot jantung dan bisa menyebabkan suatu serangan jantung. Penyakit arteri koroner menyebabkan berkurangan aliran darah ke otot jantung. Jika arteri menjadi tersumbat, maka jantung menjadi kelaparan akan oksigen dan zat nutrisi (iskemia). Dalam jangka waktu pendek, kerusakan otot jantung (serangan jantung) terjadi. Daerah yang rusak tidak dapat memompa secara normal, yang menyebabkan gagal jantung.
Sebab-sebab lain meliputi:
a) Cardiomyopathy: kerusakan pada otot jantung karena infeksi, alkohol, atau penyalah-gunaan obat, kehamilan atau tanpa penyebab yang jelas.
b) Kondisi-kondisi yang menyebabkan jantung bekerja terlalu berat: tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit katup jantung, penyakit tiroid, penyakit ginjal, diabetes mellitus atau cacat jantung.
c) Faktor sistemik : tirotoksikosis, hipokisa, anemia, asidosis dan ketidakseimbangan elektrolit.
Penyakit katup jantung bisa menyumbat aliran darah diantara ruang-ruang jantung atau diantara jantung dan arteri utama. Selain itu, kebocoran katup jantung bisa menyebabkan darah mengalir balik ke tempat asalnya. Keadaan ini akan meningkatkan beban kerja otot jantung, yang pada akhirnya bisa melemahkan kekuatan kontraksi jantung.
Penyakit lainnya secara primer menyerang sistem konduksi listrik jantung dan menyebabkan denyut jantung yang lambat, cepat atau tidak teratur, sehingga tidak mampu memompa darah secara efektif. Jika jantung harus bekerja ekstra keras untuk jangka waktu yang lama, maka otot-ototnya akan membesar; sama halnya dengan yang terjadi pada otot lengan setelah beberapa bulan melakukan latihan beban.
Pada awalnya, pembesaran ini memungkinkan jantung untuk berkontraksi lebih kuat; tetapi akhirnya jantung yang membesar bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan memompa jantung dan terjadilah gagal jantung.
Tekanan darah tinggi (hipertensi) bisa menyebabkan jantung bekerja lebih berat. Jantung juga bekerja lebih berat jika harus mendorong darah melalui jalan keluar yang menyempit (biasanya penyempitan katup aorta).
Penyebab yang lain adalah kekakuan pada perikardium (lapisan tipis dan transparan yang menutupi jantung). Kekakuan ini menghalangi pengembangan jantung yang maksimal sehingga pengisian jantung juga menjadi tidak maksimal.
Penyebab lain yang lebih jarang adalah penyakit pada bagian tubuh yang lain, yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan oksigen dan zat-zat makanan, sehingga jatnung yang normalpun tidak mampu memenuhi peningkatan kebutuhan tersebut dan terjadilah gagal jantung.
Penyebab gagal jantung bervariasi di seluruh dunia karena penyakit yang terjadipun tidak sama di setiap negara. Misalnya di negara tropis sejenis parasit tertentu bisa bersemayam di otot jantung dan menyebabkan gagal jantung pada usia yang jauh lebih muda.
Penyebab gagal jantung dapat berupa faktor dari dalam jantung itu sendiri maupun dari luar. Faktor dari dalam lebih sering karena terjadinya kerusakan-kerusakan yang sudah dibawa, sedangkan faktor dari luar cukup banyak, antara lain: penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes mellitus.
Dalam menilai pasien gagal jantung, penting untuk mengenali tidak saja penyebab yang mendasari penyakit jantung tetapi juga penyebab yang memicu timbulnga gagal jantung. Pengenalan penyebab pemicu seperti ini sangat penting, sebab peringanan yang cepat terhadap penyebab ini dapat menyelamatkan hidup. Jika dapat dikenali dengan tepat, penyebab pemicu gagal jantung biasanya dapat diobati dengan lebih efektif dibanding penyebab yang mendasari. Penyebab pemicu gagal jantung antara lain :
1) Infeksi
Infeksi apapun dapat memicu terjadinya gagal jantung. Demam, takikardi dan hipoksemia yang terjadi serta kebutuhan metabolik yang meningkat akan memberi tambahan beban kepada miokard yang sudah kelebihan beban.
2) Anemia
Pada keadaan anemia, kebutuhan oksigen jaringan yang melakukan metabolism hanya dapat dipenuhi dengan meningkatkan curah jantung. Meskipun peningkatan curah jantung ini dapat dipertahankan oleh jantung normal, tetapi jantung yang sakit, kelebihan beban, tidak dapat meningkatkan volume darah yang cukup untuk dialirkan ke perifer. Pada keadaan ini, kombinasi anemia dan penyakit jantung terkompensasi sebelumnya dapat menyebabkan penghantaran oksigen yang tidak memadai ke perifer dan memicu gagal jantung.
3) Aritmia
Pada pasien dengan penyakit jantung terkompensasi, aritmia merupakan penyebab pemicu gagal jantung yang paling sering. Aritmia menimbulkan efek yang menggangu karena :
a. Mengurangi periode waktu yang tersedia untuk pengisian ventrikel
b. Menyebabkan hilangnya mekanisme pompa penguat atrium karena meningkatkan tekanan atrium
c. Kemampuan miokard dapat lebih tergangggu karena hilangnya keselarasan kontraksi ventrikel yang normal
d. Mengurangi curah jantung
4) Reumatik dan bentuk miokarditis lainnya
Demam reumatik akut dan sejumlah proses infeksi atau peradangan lain yang mengenai miokard dapat menggangu fungsi miokard pada pasien dengan atau tanpa penyakit jantung sebelumnya
5) Beban fisis, makanan, cairan, lingkungan dan emosional yang berlebihan
Penambahan asupan sodium, penghentian obat gagal jantug yang tidak tepat, transfusi darah, kegiatan fisis yang terlalu berat, kelembapan atau panas lingkungan yang berlebihan dan krisis emosional dapat memicu gagal jantung pada pasien dengan penyakit jantung yang sebelumnya masih dapat terkompensasi
6) Hipertensi sistemik
Peningkatan tekanan arteri yang cepat, seperti yang terjadi pada beberapa hipertensi yang berasal dari ginjal atau karena penghentian obat antihipertensi, dapat menyebabkan dekompensasi jantung
7) Infark miokard
Pada pasien dengan penyakit jantung iskemik kronik tetapi terkompensasi, selain tidak ada gejala klinis kadang-kadang infark baru yang terjadi dapat lebih menggangu fungsi ventrikel dan memicu gagal jantung
Bentuk-bentuk gagal jantung dibedakan menjadi :
a. Gagal jantung curah-tinggi atau curah-rendah
b. Gagal jantung akut atau kronik
c. Gagal jantung sisi kanan atau sisi kiri
1. Gagal jantung kiri disebabkan oleh penyakit jantung koroner, penyakit katup aorta dan mitral serta hipertensi. Gagal jantung kiri berdampak pada :
- Paru
- Ginjal
- Otak
2. Penyebab gagal jantung kanan harus juga termasuk semua yang dapat menyebabkan gagal jantung kiri, seharusnya stenosis mitral yang menyebabkan peningkatan tekanan dalam sirkulasi paru. Gagal jantung kanan dapat berdampak pada :
- Hati
- Ginjal
- Jaringan subkutis
- Otak
- Sistem Aliran aorta
d. Gagal jantung depan (forward) atau belakang (backward)
e. Gagal jantung sistolik atau diastole

C. PATOFISIOLOGI
Gagal jantung bukanlah suatu keadaan klinis yang hanya melibatkan satu sistem tubuh melainkan suatu sindroma klinik akibat kelainan jantung sehingga jantung tidak mampu memompa memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Gagal jantung ditandai dengan dengan satu respon hemodinamik, ginjal, syaraf dan hormonal yang nyata serta suatu keadaan patologik berupa penurunan fungsi jantung.
Respon terhadap jantung menimbulkan beberapa mekanisme kompensasi yang bertujuan untuk meningkatkan volume darah, volume ruang jantung, tahanan pembuluh darah perifer dan hipertropi otot jantung. Kondisi ini juga menyebabkan aktivasi dari mekanisme kompensasi tubuh yang akut berupa penimbunan air dan garam oleh ginjal dan aktivasi system saraf adrenergik.
Kemampuan jantung untuk memompa darah guna memenuhi kebutuhan tubuh ditentukan oleh curah jantung yang dipengaruhi oleh empar faktor yaitu: preload; yang setara dengan isi diastolik akhir, afterload; yaitu jumlah tahanan total yang harus melawan ejeksi ventrikel, kontraktilitas miokardium; yaitu kemampuan intrinsik otot jantung untuk menghasilkan tenaga dan berkontraksi tanpa tergantung kepada preload maupun afterload serta frekuensi denyut jantung.
Dalam hubungan ini, penting dibedakan antara kemampuan jantung untuk memompa (pump function) dengan kontraktilias otot jantung (myocardial function). Pada beberapa keadaan ditemukan beban berlebihan sehingga timbul gagal jantung sebagai pompa tanpa terdapat depresi pada otot jantung intrinsik. Sebaliknya dapat pula terjadi depresi otot jantung intrinsik tetapi secara klinis tidak tampak tanda-tanda gagal jantung karena beban jantung yang ringan.
Pada awal gagal jantung, akibat CO yang rendah, di dalam tubuh terjadi peningkatan aktivitas saraf simpatis dan sistem renin angiotensin aldosteron, serta pelepasan arginin vasopressin yang kesemuanya merupakan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan tekanan darah yang adekuat. Penurunan kontraktilitas ventrikel akan diikuti penurunan curah jantung yang selanjutnya terjadi penurunan tekanan darah dan penurunan volume darah arteri yang efektif. Hal ini akan merangsang mekanisme kompensasi neurohumoral.
Vasokonstriksi dan retensi air untuk sementara waktu akan meningkatkan tekanan darah sedangkan peningkatan preload akan meningkatkan kontraktilitas jantung melalui hukum Starling. Apabila keadaan ini tidak segera teratasi, peninggian afterload, peninggian preload dan hipertrofi/ dilatasi jantung akan lebih menambah beban jantung sehingga terjadi gagal jantung yang tidak terkompensasi
Tubuh memiliki beberapa mekanisme kompensasi untuk mengatasi gagal jantung.
1) Mekanisme respon darurat yang pertama berlaku untuk jangka pendek (beberapa menit sampai beberapa jam), yaitu reaksi fight-or-flight. Reaksi ini terjadi sebagai akibat dari pelepasan adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin) dari kelenjar adrenal ke dalam aliran darah; noradrenalin juga dilepaskan dari saraf. Adrenalin dan noradrenalin adalah sistem pertahanan tubuh yang pertama muncul setiap kali terjadi stres mendadak. Pada gagal jantung, adrenalin dan noradrenalin menyebabkan jantung bekerja lebih keras, untuk membantu meningkatkan curah jantung dan mengatasi gangguan pompa jantung sampai derajat tertentu. Curah jantung bisa kembali normal, tetapi biasanya disertai dengan meningkatnya denyut jantung dan bertambah kuatnya denyut jantung. Pada seseorang yang tidak mempunyai kelainan jantung dan memerlukan peningkatan fungsi jantung jangka pendek, respon seperti ini sangat menguntungkan. Tetapi pada penderita gagal jantung kronis, respon ini bisa menyebabkan peningkatan kebutuhan jangka panjang terhadap sistem kardiovaskuler yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan. Lama-lama peningkatan kebutuhan ini bisa menyebabkan menurunya fungsi jantung.
2) Mekanisme perbaikan lainnya adalah penahanan garam (natrium) oleh ginjal. Untuk mempertahankan konsentrasi natrium yang tetap, tubuh secara bersamaan menahan air. Penambahan air ini menyebabkan bertambahnya volume darah dalam sirkulasi dan pada awalnya memperbaiki kerja jantung. Salah satu akibat dari penimbunan cairan ini adalah peregangan otot jantung karena bertambahnya volume darah. Otot yang teregang berkontraksi lebih kuat. Hal ini merupakan mekanisme jantung yang utama untuk meningkatkan kinerjanya dalam gagal jantung. Tetapi sejalan dengan memburuknya gagal jantung, kelebihan cairan akan dilepaskan dari sirkulasi dan berkumpul di berbagai bagian tubuh, menyebabkan pembengkakan (edema). Lokasi penimbunan cairan ini tergantung kepada banyaknya cairan di dalam tubuh dan pengaruh gaya gravitasi. Jika penderita berdiri, cairan akan terkumpul di tungkai dan kaki. Jika penderita berbaring, cairan akan terkumpul di punggung atau perut. Sering terjadi penambahan berat badan sebagai akibat dari penimbunan air dan garam. ginjal menyebabkan tubuh menahan cairan dan sodium. Ini menambah jumlah darah yang beredar melalui jantung dan pembuluh darah.
3) Mekanime utama lainnya adalah pembesaran otot jantung (hipertrofi). Otot jantung yang membesar akan memiliki kekuatan yang lebih besar, tetapi pada akhirnya bisa terjadi kelainan fungsi dan menyebabkan semakin memburuknya gagal jantung.
Tubuh anda mencoba untuk berkompensasi dengan melepaskan hormon yang membuat jantung bekerja lebih keras. Dengan berlalunya waktu, mekanisme pengganti ini gagal dan gejala-gejala gagal jantung mulai timbul. Seperti gelang karet yang direntang berlebihan, maka kemampuan jantung untuk merentang dan mengerut kembali akan berkurang. Otot jantung menjadi terentang secara berlebihan dan tidak dapat memompa darah secara efisien. Darah kembali ke lengan, tungkai, pergelangan kaki, kaki, hati, paru-paru atau organ-organ lainnya; tubuh menjadi macet. Inilah yang disebut gagal jantung kongestif.
Pompa yang lemah" tidak dapat memenuhi keperluan terus-menerus dari tubuh akan oksigen dan zat nutrisi.



Sebagai reaksi :








Gagal jantung merupakan proses progresif, bahkan jika tidak ada kerusakan baru terjadi pada jantung.

D. GEJALA KLINIS
1) Dispnea ( sesak napas )
2) Ortopnea ( sesak napas dalam posisi berbaring )
3) Dispnea paroksismal (noktural/ sesak napas dan batuk malam hari )
4) Kelelahan,, kelemahan dan berkurangnya kapasitas exercise
5) Anoreksia, mual, nyeri abdomen dan rasa penuh
6) Gejala serebral ( pada gagal jantung berat/usia lanjut ditandai dengan konfunsio, sulit konsentrasi, insomnia, sakit kepala, gangguan mengingat, kecemasan dan nokturia )
7) Edema jantung


Pada penderita gagal jantung kongestif, hampir selalu ditemukan :
1) Gejala paru berupa dyspnea, orthopnea dan paroxysmal nocturnal dyspnea
2) Gejala sistemik berupa lemah, cepat lelah, oliguri, nokturi, mual, muntah, asites, hepatomegali, dan edema perifer.
3) Gejala susunan saraf pusat berupa insomnia, sakit kepala, mimpi buruk sampai delirium.
Pada kasus akut, gejala yang khas ialah gejala edema paru yang meliputi : dyspnea, orthopnea, tachypnea, batuk-batuk dengan sputum berbusa, kadang-kadang hemoptisis, ditambah gejala low output seperti : takikardi, hipotensi dan oliguri beserta gejala-gejala penyakit penyebab atau pencetus lainnya seperti keluhan angina pectoris pada infark miokard akut. Apabila telah terjadi gangguan fungsi ventrikel yang berat, maka dapat ditemukn pulsus alternan. Pada keadaan yang sangat berat dapat terjadi syok kardiogenik.
Penderita gagal jantung yang tidak terkompensasi akan merasakan lelah dan lemah jika melakukan aktivitas fisik karena otot-ototnya tidak mendapatkan jumlah darah yang cukup. Pembengkakan efek pembengkakan juga dipengaruhi oleh sisi jantung yang mengalami gangguan. Gagal jantung kanan cenderung mengakibatkan pengumpulan darah yang mengalir ke bagian kanan jantung. Hal ini menyebabkan pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati dan perut.
Gagal jantung kiri menyebabkan pengumpulan cairan di dalam paru-paru (edema pulmoner), yang menyebabkan sesak nafas yang hebat. Pada awalnya sesak nafas hanya terjadi pada saat melakukan aktivitas; tetapi sejalan dengan memburuknya penyakit, sesak nafas juga akan timbul pada saat penderita tidak melakukan aktivitas. Kadang sesak nafas terjadi pada malam hari ketika penderita sedang berbaring, karena cairan bergerak ke dalam paru-paru. Penderita sering terbangun dan bangkit untuk menarik nafas atau mengeluarkan bunyi mengi. Duduk menyebabkan cairan mengalir dari paru-paru sehingga penderita lebih mudah bernafas. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya penderita gagal jantung tidur dengan posisi setengah duduk.
Pengumpulan cairan dalam paru-paru yang berat (edema pulmoner akut) merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan pertolongan segera dan bisa berakibat fatal.
Gejala yang muncul sesuai dengan gejala jantung kiri diikuti gagal jantung kanan dapat terjadinya di dada karana peningkatan kebutuhan oksigen. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda – tanda gejala gagal jantung kongestif biasanya terdapat bunyi derap dan bising akibat regurgitasi mitral.
Gagal Jantung Kiri :
a. Dispneu
b. Orthopneu
c. Paroksimal Nokturnal Dyspneu
d. Batuk
e. Mudah lelah
f. Gelisah dan cemas

Gagal Jantung Kanan :
a. Pitting edema
b. Hepatomegali
c. Anoreksia
d. Nokturia
e. Kelemahan












E. PENATALAKSANAAN
Tata laksana gagal jantung didasarkan pada usaha untuk menentukan diagnosis yang tepat, menyingkirkan kelainan yang menyerupai gagal jantung, sambil memberikan pengobatan untuk mengurangi keluhan. Tindakan dan pengobatan pada gagal jantung ditujukan pada 5 aspek, yaitu :
1) Mengurangi beban kerja jantung
2) Memperkuat kontraktilitas miokard
3) Mengurangi kelebihan cairan dan garam
4) Melakukan tindakan dan pengobatan khusus terhadap penyakit,
5) Faktor-faktor pencetus dan kelainan yang mendasari.
Pada umumnya semua penderita gagal jantung dianjurkan untuk membatasi aktivitas sesuai beratnya keluhan. Terapi nonfarmakologi antara lain: diet rendah garam, mengurangi berat badan, mengurangi lemak, mengurangi stress psikis, menghindari rokok, olahraga teratur (Nugroho, 2009). Beban awal dapat dikurangi dengan pembatasan cairan, pemberian diuretika, nitrat, atau vasodilator lainnya. Beban akhir dikurangi dengan obat-obat vasodilator, seperti ACE-inhibitor, hidralazin. Kontraktilitas dapat ditingkatkan dengan obat ionotropik seperti digitalis, dopamin, dan dobutamin (Sugeng dan Sitompul, 2003).
Penunjang pemeriksaan seperti :
1. EKG (elektrokardiogram): untuk mengukur kecepatan dan keteraturan denyut jantung.
2. Echokardiogram: menggunakan gelombang suara untuk mengetahui ukuran dan bentuk jantung, serta menilai keadaan ruang jantung dan fungsi katup jantung. Sangat bermanfaat untuk menegakkan diagnosis gagal jantung.
3. Foto rontgen dada: untuk mengetahui adanya pembesaran jantung, penimbunan cairan di paru-paru atau penyakit paru lainnya.
4. Tes darah BNP: untuk mengukur kadar hormon BNP (B-type natriuretic peptide) yang pada gagal jantung akan meningkat.

F. TERAPI DIIT
Merokok, garam, kelebihan berat badan dan alkohol akan memperburuk gagal jantung. Dianjurkan untuk berhenti merokok, melakukan perubahan pola makan, berhenti minum alkohol atau melakukan olah raga secara teratur untuk memperbaiki kondisi tubuh secara keseluruhan. Untuk penderita gagal jantung yang berat, tirah baring selama beberapa hari merupakan bagian penting dari pengobatan.
Penggunaan garam yang berlebihan dalam makanan sehari-hari bisa menyebabkan penimbunan cairan yang akan menghalangi pengobatan medis. Jumlah natrium dalam tubuh bisa dikurangi dengan membatasi pemakaian garam dapur, garam dalam masakan dan makanan yang asin. Penderita gagal jantung yang berat biasanya akan mendapatkan keterangan terperinci mengenai jumlah asupan garam yang masih diperbolehkan.
Cara yang sederhana dan dapat dipercaya untuk mengetahui adanya penimbunan cairan dalam tubuh adalah dengan menimbang berat badan setiap hari. Kenaikan lebih dari 1 kg/hari hampir dapat dipastikan disebabkan oleh penimbunan cairan. Penambahan berat badan yang cepat dan terus menerus merupakan petunjuk dari memburuknya gagal jantung. Karena itu penderita gagal jantung diharuskan menimbang berat badannya setepat mungkin setiap hari, terutama pada pagi hari , setelah berkemih dan sebelum sarapan. Timbangan yang digunakan harus sama, jumlah pakaian yang digunakan relatif sama dan dibuat catatan tertulis.
Syarat diet penyakit jantung adalah :
1. Energi cukup, untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal.
2. Protein cukup yaitu 0,8g/kg BB.
3. Lemak sedang, yaitu 25–30% dari kebutuhan energi total, 10% berasal dari lemak jenuh, dan 10-15% lemak tidak jenuh.
4. Kolesterol rendah, terutama jika disertai dengan dislipidemia.
5. vitamin dan mineral cukup. Hindari penggunaan suplemen kalium, kalsium, dan magnesium jika tidak dibutuhkan.
6. Garam rendah, 2-3g/hari, jika disertai hipertensi atau edema.
7. Makanan mudah cerna dan tidak menimbulkan gas.
8. Serat cukup untuk menghindari konstipasi.
9. Cairan cukup, ± 2 liter/hari sesuai dengan kebutuhan.
10. Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit, diberikan dalam porsi kecil.
11. Bila kebutuhan gizi tidak dapat dipenuhi melalui makanan dapat diberikan tambahan berupa makanan enteral, parenteral, atau suplemen gizi.




DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, DR.Sunita,M.Sc. 2005. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Harrrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam / editor edisi bahasa Inggris, Kurt J.Isselbacher…(et al.); editor edisi bahasa Indonesia, Ahmad H.Asdie.-Ed.13-Jakarta : EGC, 2000.
Rilantono, Lily Ismudiati, dkk. 1996. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : FK Kedokteran UI.
http://www.sahabatginjal.com/display_articles.aspx?artid=17
http://astaqauliyah.com/2006/07/20/penyakit-gagal-jantung/
http://medicastore.com/penyakit/3/Gagal_Jantung.html
http://drlizakedokteran.blogspot.com/2008/01/gagal-jantungmudah-lelah-baru-aja-jalan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gagal_jantung
http://ackogtg.wordpress.com/2009/03/10/gagal-jantung-decompensatio-cordis/
http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://pdpersi.co.id/images/news/content/jantung2.jpg&imgrefurl=http://pdpersi.co.id/%3Fshow%3Ddetailnews%26kode%3D538%26tbl%3Dcakrawala&usg=__Dvh5AvcSdVX1oaRSrWBRXecc-rk=&h=205&w=200&sz=31&hl=id&start=2&um=1&tbnid=cstNBChJs3Gl9M:&tbnh=105&tbnw=102&prev=/images%3Fq%3Dgagal%2Bjantung%26hl%3Did%26sa%3DN%26um%3D1
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehinga penulis dapat menyelesaikan laporan asuhan gizi dalam rangka praktek kerja lapangan manajemen asuhan gizi klinik dengan judul “Penatalaksanaan Terapi Diet Pada penderita Tumor Paru Ruang Palem di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Penulis menyadari sepenuhnya laporan penelitian sederhana ini dapat tersusun atas bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Ibu Poerwaningsih, SKM, M.Kes selaku Kepala Instalasi Gizi RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
2. Bapak Nono Tri Nugroho, SGz selaku Pembimbing Asuhan Gizi Ruang Palem I di Instalasi Gizi RSUD Dr. Soetomo.
3. Ibu F.X. Wahyurin Mitano, SKM selaku Koordinator PKL di Instalasi Gizi RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
4. Teman – teman PKL angkatan 2007 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Rahma, Nita, Rinda, Fitri, Nunung dan seluruh pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan asuhan gizi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun laporan asuhan gizi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempatan laporan ini pada waktu yang akan datang.
Semoga laporan asuhan gizi ini dapat bermanfaat bagi kita semua, amin.

Surabaya, Maret 2010

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Depkes (2005), Pelayanan gizi rumah sakit adalah pelayanan gizi yang disesuaikan dengan keadaan pasien berdasarkan kadaan klinis, status gizi, serta status metabolisme tubuhnya. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien. Sering terjadi kondisi pasien semakin buruk karena tidak diperhatikan keadaan gizinya. Pengaruh tersebut akan berjalan timbal balik, seperti lingkaran setan. Hal tersebut diakibatkan karena tidak tercukupinya kebutuhan zat gizi tubuh untuk perbaikan organ tubuh. Fungsi organ yang terganggu akan lebih terganggu lagi dengan adanya penyakit dan kekurangan gizi.
Terapi gizi menjadi salah satu faktor utama dalam membantu proses penyembuhan yang tentunya harus memperhatikan cara – cara pemberian terapinya agar dapat memenuhi kebutuhan zat gizinya. Pemberian terapi diet ini dapat dilakukan di rumah sakit yang salah satunya pada ruang rawat inap (Depkes, 2005).
Penentuan terapi diet pada pasien perlu memperhatikan diagnose gizi yang ada. Diagnosa gizi diketahui dari pengkajian data yang telah dikumpulkan sebelumnya (assessment gizi). Data yang dikumpulkan antara lain antropometri, biokimia, fisik – klinis dan dietery history. Oleh karena itu perlu dilakukan studi kasus pada ruang rawat inap untuk penatalaksanaan terapi diet pada penderita Ca Paru di Ruang Palem Dr. Soetomo Surabaya.

B. Tujuan Studi Kasus
1. Tujuan Umum
Mengetahui penatalaksanaan terapi diet pada penderita Ca Paru di Ruang Palem RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui data dasar dalam tata laksana asuhan gizi pasien.
b. Mengetahui pangkajian gizi.
c. Mengetahui diagnosa gizi sesuai dengan masalah gizi.
d. Mengetahui perencanaan terapi gizi untuk pasien.
e. Mengetahui implementasi pasien.
f. Mengetahui monitoring evaluasi dari kegiatan asuhan gizi pasien.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kanker Paru
1. Pengertian
Sebagian besar kanker paru-paru berasal dari sel-sel di dalam paru-paru; tetapi kanker paru-paru bisa juga berasal dari kanker di bagian tubuh lainnya yang menyebar ke paru-paru. Kanker paru-paru merupakan kanker yang paling sering terjadi, baik pada pria maupun wanita. Kanker paru-paru juga merupakan penyebab utama dari kematian akibat kanker.
2. Jenis Kanker Paru-paru
Lebih dari 90% kanker paru-paru berawal dari bronki (saluran udara besar yang masuk ke paru-paru), kanker ini disebut karsinoma bronkogenik, yang terdiri dari:
• Karsinoma sel skuamosa
• Karsinoma sel kecil atau karsinoma sel gandum
• Karsinoma sel besar
• Adenokarsinoma.
Karsinoma sel alveolar berasal dari kantong udara (alveoli) di paru-paru. Kanker ini bisa merupakan pertumbuhan tunggal, tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-paru.
Tumor paru-paru yang lebih jarang terjadi adalah:
• Adenoma (bisa ganas atau jinak)
• Hamartoma kondromatous (jinak)
• Sarkoma (ganas)
Limfoma merupakan kanker dari sistem getah bening, yang bisa berasal dari paru-paru atau merupakan penyebaran dari organ lain. Banyak kanker yang berasal dari tempat lain menyebar ke paru-paru. Biasanya kanker ini berasal dari payudara, usus besar, prostat, ginjal, tiroid, lambung, leher rahim, rektum, buah zakar, tulang dan kulit.
3. Diagnose
Jika seseorang (terutama perokok) mengalami batuk yang menetap atau semakin memburuk atau gejala paru-paru lainnya, maka terdapat kemungkinan terjadinya kanker paru-paru. Kadang petunjuk awalnya berupa ditemukannya bayangan pada rontgen dada dari seseorang yang tidak menunjukkan gejala. Rontgen dada bisa menemukan sebagian besar tumor paru-paru, meskipun tidak semua bayangan yang terlihat merupakan kanker. Biasanya dilakukan pemeriksaan mikroskopik dari contoh jaringan, yang kadang berasal dari dahak penderita (sitologi dahak). Untuk mendapatkan jaringan yang diperlukan, dilakukan bronkoskopi.
CT scan bisa menunjukkan bayangan kecil yang tidak tampak pada foto rontgen dada dan bisa menunjukkan adanya pembesaran kelenjar getah bening. Untuk mengetahui adanya penyebaran ke hati, kelenjar adrenal atau otak, dilakukan CT scan perut dan otak. Penyebaran ke tulang bisa dilihat melalui skening tulang. Kadang dilakukan biopsi sumsum tulang, karena karsinoma sel kecil cenderung menyebar ke sumsum tulang
Penggolongan (stadium) kanker dilakukan berdasarkan:
- ukuran tumor
- penyebaran ke kelenjar getah bening di dekatnya
- penyebaran ke organ lain.
Stadium ini digunakan untuk menentukan jenis pengobatan yang akan dilakukan dan ramalan penyakit pada penderita.
B. Efusi Pleura
1. Pengertian
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya cairan pleura dalam jumlah yang berlebihan di dalam rongga pleura, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran cairan pleura. Dalam keadaan normal, jumlah cairan dalam rongga pleura sekitar 10-200 ml. Cairan pleura komposisinya sama dengan cairan plasma, kecuali pada cairan pleura mempunyai kadar protein lebih rendah yaitu < 1,5 gr/dl. Etiologi terjadinya efusi pleura bermacam-macam, yaitu: tuberkulosis paru (merupakan penyebab yang palng sering di Indonesia), penyakit primer pada pleura, penyakit penyakit sistemik dan keganasan baik pada pleura maupun diluar pleura.
2. Anatomi Pleura
Pleura adalah membra tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura visceralis dan parietalis. Secara histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesothelial, jaringaan ikat, dan dalam keadaan normal, berisikan lapisan cairan yang sangat tipis. Membran serosa yang membungkus parekim paru disebut pleura viseralis, sedangkan membran serosa yang melapisi dinding thorak, diafragma, dan mediastinum disebut pleura parietalis. Rongga pleura terletak antara paru dan dinding thoraks. Rongga pleura dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi sebagai pelumas antara kedua pleura. Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hillus paru. Dalam hal ini, terdapat perbedaan antara pleura viseralis dan parietalis, diantaranya :
• Pleura visceralis :
- Permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis < 30mm.
- Diantara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit
- Di bawah sel-sel mesothelial ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit
- Di bawahnya terdapat lapisan tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat elastik
- Lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari a. Pulmonalis dan a. Brakhialis serta pembuluh limfe
- Menempel kuat pada jaringan paru
- Fungsinya. untuk mengabsorbsi cairan. Pleura


• Pleura parietalis
- Jaringan lebih tebal terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat (kolagen dan elastis)
- Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung kapiler dari a. Intercostalis dan a. Mamaria interna, pembuluh limfe, dan banyak reseptor saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperatur. Keseluruhan berasal n. Intercostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan dermatom dada
- Mudah menempel dan lepas dari dinding dada di atasnya
- Fungsinya untuk memproduksi cairan pleura
3. Patofisiologi
Dalam keadaan normal, selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui kapiler pada pleura parietalis tetapi cairan ini segera direabsorpsi oleh saluran limfe, sehingga terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi, tiap harinya diproduksi cairan kira-kira 16,8 ml (pada orang dengan berat badan 70 kg). Kemampuan untuk reabsorpsinya dapat meningkat sampai 20 kali. Apabila antara produk dan reabsorpsinya tidak seimbang (produksinya meningkat atau reabsorpsinya menurun) maka akan timbul efusi pleura.
Diketahui bahwa cairan masuk kedalam rongga melalui pleura parietal dan selanjutnya keluar lagi dalam jumlah yang sama melalui membran pleura parietal melalui sistem limfatik dan vaskular. Pergerakan cairan dari pleura parietalis ke pleura visceralis dapat terjadi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotik. Cairan kebanyakan diabsorpsi oleh sistem limfatik dan hanya sebagian kecil yang diabsorpsi oleh sistem kapiler pulmonal. Hal yang memudahkan penyerapan cairan pada pleura visceralis adalah terdapatnya banyak mikrovili di sekitar sel-sel mesothelial.
Akumulasi cairan pleura dapat terjadi bila:
1. Meningkatnya tekanan intravaskuler dari pleura meningkatkan pembentukan cairan pleura melalui pengaruh terhadap hukum Starling.Keadaan ni dapat terjadi pada gagal jantung kanan, gagal jantung kiri dan sindroma vena kava superior.
2. Tekanan intra pleura yang sangat rendah seperti terdapat pada atelektasis, baik karena obstruksi bronkus atau penebalan pleura visceralis
3. Meningkatnya kadar protein dalam cairan pleura dapat menarik lebih banyak cairan masuk ke dalam rongga pleura
4. Hipoproteinemia seperti pada penyakit hati dan ginjal bisa menyebabkan transudasi cairan dari kapiler pleura ke arah rongga pleura
5. Obstruksi dari saluran limfe pada pleum parietalis. Saluran limfe bermuara pada vena untuk sistemik. Peningkatan dari tekanan vena sistemik akan menghambat pengosongan cairan limfe.















BAB III
METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Studi Kasus
1. Waktu
Waktu pelaksanaan studi kasus mulai tanggal 21 sampai 22 Maret 2010.
2. Tempat
Tempat pelaksanaan studi kasus dilaksanakan di Ruang Palem I.

B. Cara Mengumpulkan Data
Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan observasi.

C. Instrument Studi Kasus
Alat penunjang yang digunakan untuk studi kasus, yaitu :
1. Form asuhan gizi
2. Alat tulis
3. Timbangan
4. Metline
5. Food model








BAB IV
HASIL

A. Identitas Pasien
Nama : Tn. Liwon
Jenis Kelamin : Laki – laki
Umur : 52 th
No. Registrasi : 11. 02. 90. 01
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMP
St perkawinan : Nikah
Tanggal Skrining : 21 – 03 – 2010
Tanggal dimulai kasus : 21 – 03 – 2010
Diagnose : Efusi Pluera (D) + Tumor Paru.

B. Skrining Gizi
Hasil skrining pada Tn. Liwon dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :
Tabel 1. Hasil skrining pasien tanggal 19 Maret 2010
No Keluhan Ya Tidak Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8 Perubahan berat badan
Nafsu makan menurun
Mual/muntah
Diare
Anorexia
Perubahan aktivitas
Gangguan menelan
Gangguan mengunyah V




V
V
V
V
V

V
V Sejak Desember tahun 2009




Sejak MRS

C. Data Subyektif
1. Keluhan Pasien
Pasien mampunyai keluhan nyeri dada kanan dan batuk.

2. Riwayat Penyakit (RPD, RPS, RPK)
a. Riwayat penyakit dahulu
Pasien hanya mengalami batuk dan pilek.
b. Riwayat penyakit sekarang
Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari SMRS, batuk, nyeri dada kanan sejak 3 bulan lalu. Berat bdan turun sejak bulan desember sampai sekarang sebanyak 15 kg.
c. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada yang menderita penyakit ini sebelumnya dalam keluarga pasien.

3. Kebiasaan Hidup
Pasien biasa merokok sebanyak 12 batang perhari, obat – obatan yang biasa diminum yaitu Mixagrip, pasien tidak minum – minuman keras dan berolahraga lari pagi tiap minggu.

4. Makanan Kesukaan
Pasien menyukai semua jenis makan – makanan dan pasien paling suka minum kopi.

5. Pantangan Makanan
Pasien tidak mempunyai pantangan dalam mengkonsumsi suatu makanan.

6. Alergi Makanan
Pasien tidak mempunyai alergi terhadap semua jenis bahan makanan.

7. Analisa Keadaan Gizi
Dari data subjektif yang didapat bahwa status gizi pasien baik.

D. Data Obyektif
1. Antropometri
BB : 60 kg
TB : 171 cm
2. Biokimia
a. Pemeriksaan laboratorium
• Data tanggal 12 Maret 2010
Tabel 3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Penilaian
Hb
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Na
K
Cl
Glukosa
SGOT
SGPT
BUN
Creatinin 10,6
4,3 juta
20.700
628.000
105,4
4,51
76,4
85
33
33
5,6
0,6 13,4 – 17,7 g/dl
4,33–5,95 x 1012/dl 4,7 – 10,3 x 10/dl
150 – 350 x 10/L
144 – 556 mmol/L
3,8 – 5,0 mmol/L
97 – 103 mg/dl
70 – 110 mg/dl
<29,30 U/L
<24,30 U/L
10 – 20 mg/dl
<1,5 Rendah
Normal
Rendah
Tinggi
Rendah
Normal
Rendah
Normal
Tinggi
Tinggi
Rendah
Normal

• Data tanggal 17 Maret 2010
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Penilaian
Hb
Leukosit
Eritrosit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC 14,4
7300
5,77
151000
76,4
25
32,7 13,4 – 17,7 g/dl
4,7 – 10,3 x 10/dl
4,33–5,95 x 1012/dl
150 – 350 x 10/L
80 – 93 fl
27 – 31 pg
32 – 36 % Normal
Normal
Normal
Normal Rendah
Rendah
Normal

b. Pemeriksaan penunjang lain
- Pada tanggal 08 Maret 2010 dilakukan Ct Torax Ca Paru dengan hasil Efusi Pleura kanan massif yang mendorong mediastinum ke sisi kiri dan menyebabkan kolaps paru kanan. Tak tampak jelas gambaran massa dikedua paru.
- Pada tanggal 17 Maret 2010 dilakukan USG Upper Abdomen dengan hasil Radiologis Pleura yang sebagian sudah mengalami organisasi.
- Pada tanggal 17 Maret 2010 dilakukan pemeriksaan Radiologistik dengan hasil Radiologis
Efusi Pleura kanan yang sebagian sudah mengalami organisasi.
Hepar/ GB/ Lien/ Pancreas/ Ginjal kanan/ Buli dan Prostat tak tampak kelainan.
- Pada tanggal 17 Maret 2010 dilakukan pemerikasaan patologi anatomi dengan hasil tidak ditemukan sel ganas.

3. Pemerikasaan Klinis
• Data klinis Tn. L pada waktu masuk rumah sakit tanggal 12 Maret 2010
Tabel 4. Hasil pemeriksaan klinis
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Penilaian
Tensi darah 110/80 110 – 120/ 70-80 Normal
Nadi 108x 80 – 100x/ menit Tinggi
RR 28x 24x Tinggi
Suhu 37ºC 36 - 37ºC Normal
GCS 456

• Data klinis Tn. L pada waktu dilakukan skrining tanggal 19 Maret 2010
Tabel 5. Hasil pemeriksaan klinis
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Penilaian
Tensi darah 140/80 110 – 120/ 70–80 Tinggi
Nadi 84x 80 – 100x/ menit Normal
RR 20x 24x Rendah
Suhu 36,8ºC 36-37ºC Normal
GCS 456

4. Pemeriksaan Fisik
Nyeri dada dan keadaan umum baik.
E. Assessment Gizi
1. Status Gizi
BB : 60 Kg
TB : 171 cm
IMT = 20,15 (normal)
BBI = 63,9 kg

2. Dietary History
Anamnesa kulitatif pola makan Px sebelum masuk rumah sakit
Tabel 5. Pola makan pasien
Bahan Makanan Frekuensi Ket
≥ 1x/hr 1-3x/mg <1x/mg Tdk pernah
1. KH:
Nasi
Roti tawar
Jagung
Singkong
V

V
V
V
- Pasien makan nasi 3x perhari
- Pasien makan roti tawar, jagung dan singkong 1x per minggu
2. LH:
Telur ayam
Daging ayam
Daging sapi
Ikan

V
V
V
V
- Pasien makan lauk hewani selang seling 1-3x per minggu
3. LN:
Tempe
Tahu
V
V



- Pasien makan tahu dan tempe

4. Sayuran:
Sawi
Kangkung
Wortel
Kubis
Bayam
Terong

V
V
V
V
V
V
- Pasien makan sayuran selang seling 1-3x per minggu
5. Buah:
Apel
Jeruk
Mangga
Pisang
Papaya
V
V
V
V
V
V
- Pasien makan buah – buahan selang seling 1-3x per minggu
6. Minuman:
Susu
Air putih
Teh manis
Kopi

V
V
V
V
- Pasien minum – minumn seperti teh, kopi manis 1-2 kali per hari sedangkan susu 1-3x perminggu.
7. Lain – lain
Bakso V

F. Diagnosa Gizi
Diagnosa Medis : Efusi Pelura + Ca Paru
Diagnosa Gizi
1. Kebiasaan yang salah mengenai makanan yang tidak sesuai dengan prinsip ilmu gizi yang ditandai dengan kebiasaan minum kopi 3 x perhari.
2. Penurunan berat badan yang tidak diharapkan disebabkan karena peningkatan katabolisme yang berlebihan tumor paru yang ditandai dengan kehilangan berat badan 20% dalam 6 bulan.
3. Perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi asam folat dan vitamin C disebabkan anemia yang ditandai dengan MCV dan MCH menurun.


G. Terapi Medis
1. Evakuasi Pleura
2. Copar 6x1 tab
3. Diet TKTP.

H. Implementasi
1. Jenis Diet : TKTP
2. Bentuk Makanan : Nasi
3. Cara Pemberian : Makanan diberikan melalui oral
4. Tujuan Diet :
a. Memberikan makanan yang seimbang sesuai dengan keadaan penyakit serta daya terima pasien.
b. Mencegah atau menghambat penurunan berat badan secara berlebihan.
c. Mengurangi rasa mual, muntah, dan diare.
d. Mengupayakan perubahan sikap dan perilaku sehat terhadap makanan oleh pasien dan keluarganya.
5. Syarat Diet
a. Energy diberikan tinggi sebanyak 2361 kkal.
b. Protein diberikan sebanyak 13% dari total kalori yaitu 77 gram per hari.
c. Lemak diberikan sebanyak 22% dari total kalori yaitu 58 gram per hari
d. Karbohidrat diberikan sebanyak 65% dari total kalori yaitu 384 gram per hari.
e. Vitamin dan mineral diberikan cukup.
6. Perhitungan Kebutuhan Zat gizi
IMT = 60
1,712
= 20,51  Normal
BB = TB - 100 x 90%
= 171 – 100 x 90%
= 71 x 90%
= 63,9 kg

BEE = 66,5 + (13,7 x 60) + (5 x 171) + (6,76 x 52)
= 66,5 + 822 + 855 – 351,52
= 1396,98
Kebutuhan Energi = BEE x Faktor Aktivitas x Faktor Stres
= 1397 x 1,3 x 1,3
= 2361 kkal
Kebutuhan Protein = 13% x 2361
= 306,93/ 4
= 77 gram
Kebutuhan Lemak = 22% x 2361
= 519,42/ 9
= 58 gram
Kebutuhan KH = 65% x 2361
= 1534,65/ 4
= 384 gram
7. Perencanaan Menu
Terlampir
8. Perencanaan Konsultasi Gizi
a. Konsultasi Gizi
1) Tujuan
a). Tujuan Umum
Merubah perilaku pasien tentang pola makan dan diet agar lebih baik sesuai dengan anjuran diet yang diberikan serta meningkatkan pengetahuan keluarga pasien sehubungan dengan diet yang diberikan.
b). Tujuan khusus
o Keluarga pasien mau menerima informasi yang diberikan.
o Keluarga pasien mengerti tentang diet yang diberikan.
o Keluarga pasien mampu menerapkan diet untuk pasien sesuai yang diberikan.
o Keluarga ikut berpartisipasi dalam kelancaran diet yang telah diberikan.
2) Materi
a) Penjelasan tentang diet yang dijalani yaitu diet TKTP
b) Penjelasan tentang makanan yang boleh dimakan atau tidak boleh dimakan.
c) Penjelasan penggunaan Bahan Makanan Penukar.
3) Sasaran : Pasien dan keluarga pasien
4) Media : Leaflet tentang Diet TKTP dan leaflet bahan makanan penukar.
5) Metode : Diskusi dan Tanya jawab.
6) Waktu : 15 menit
7) Tempat : Ruang rawat pasien Palem I kelas III Bed 1
8) Evaluasi
• Menanyakan kembali materi yang telah disampaikan kepada keluarga pasien.
• Melakukan diskusi tanya jawab dengan pasien.

I. Monitoring dan Evaluasi
1. Pemeriksaan Antropometri
Hasil pemeriksaan antropometri dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini :
Tabel 6. Hasil Pemeriksaan Antropometri
Pengukuran Hari ke - 1 Hari ke – 2
BB
TB 60
171 59
171
IMT 20,51 20,17

2. Pemerikasaan Biokimia (laboratorium)
Tabel 7. Hasil Pemeriksaan Laboratorium tanggal 17 – 03 - 2010
Jenis Pemeriksaan Nilai Rujukan Hasil Pemeriksaan
Hb 12,2 – 18,1 g/dl 14,4
MCV 76,4 fL 60 – 93
MCH 25 pg 27 – 31
MCHC 32,7 g/dl 32 – 36
3. Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan Nilai Rujukan Tanggal Pemeriksaan
19 Maret 2010 22 Maret 2010
Nadi 20,51 84/ i 98/ i
Suhu 37ºC 36,8ºC 36,8ºC
RR 24 x/ menit 20x/ i 29/ i
Tensi 110–120/ 70-80 140/ 80 120/ 80

4. Pemeriksaan Penunjang
• Pada tanggal 19 Maret 2010 dilakukan pemeriksaan patologi dengan kesimpulan Efusi Pleura Dekstra dan Small Cell Carsinoma.
• Pada tanggal 19 Maret 2010 dilakukan pemeriksaan Serologi
Tumor Marker
CEA ( Lung, Breast, Colorental ) 1,4 ng/ ml  < 5
PHCC, Germ Cell tumor 1,9 ng/ ml  < 12

5. Asupan Makanan
Hasil asupan makan selama 2 hari berturut – turut dapat dilihat pada tabel 9 di bawah ini :
Tabel 9. Hasil implementasi asupan makan pasien
Tanggal Analisis Zat Gizi Energy
(kkal) Protein
(gram) Lemak
(gram) KH
(gram)
21 Maret 2010 Kebutuhan
Penyajian
Total Asupan
% Asupan 2361
2218
1909
80,85% 77
72
61
79,22% 58
54
45
77,58% 384
361
322
83,85%
22 Maret 2010 Kebutuhan
Penyajian
Total Asupan
% Asupan 2361
2314
2296
97,24% 77
74
74
96,10% 58
58
67
115,51% 384
373
352
91,66%
Rata – rata Total Asupan 2102,5 67,5 56 337
Rata – rata % Asupan 89,04% 87,66% 96,54% 87,75%

Keterangan :
Penentuan tingkat konsumsi energy dan zat gizi (protein, lemak dan karbohidrat) berdasarkan pada kriteria Depkes RI 1990 yaitu sebagai berikut :
• Diatas normal : ≥ 120%
• Normal : 90 – 119%
• Defisit tingkat ringan : 80 – 89%
• Defisit tingkat sedang : 70 – 79%
• Defisit tingkat berat : < 69%
Rata – rata asupan makanan pasien selama implementasi 2 hari tersebut sudah mencukupi prosentase asupan energy, protein, lemak dan karbohidrat yaitu antara 87 – 96% hal ini dikarenakan nafsu makan pasien baik.
Asupan makan selama asuhan gizi (studi kasus) dapat dilihat dalam grafik berikut :

Sabtu, 27 Juni 2009

Mata Kuliah PKG

I. Topik : Konsumsi Garam berlebih pemicu Hipertensi
II. Diagnosa Masalah :
Hipertensi merupakan penyakit kronis degeneratif yang banyak diderita oleh masyarakat. Kelompok masyarakat pantai (nelayan) dalam beberapa penelitian disebutkan memiliki prevalensi hipertansi yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain. Nelayan memiliki karakteristik dan gaya hidup yang membedakan dengan pekerjaan lain, yang memungkinkan menjadi faktor risiko terjadinya hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada nelayan di Pelabuhan Tegal.
Konsumsi garam rata-rata masyarakat Indonesia sebesar 15 gram/hari. Itulah salah satu sebab angka penderita hipertensi di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Angka prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan riskesdas (riset kesehatan dasar) 2007 mencapai 30 % dari populasi. Dari jumlah itu 60% penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sedangkan sisanya pada jantung, gagal ginjal, dan kebutaan (www.gizi.net).

III. Sasaran : Masyarakat pesisir pelabuhan Tegal
IV. Tujuan :
a. Tujuan Umum
Memberikan penetahuan tentang faktor pemicu hipertensi kepada masyarakat di pelabuhan tegal
b. Tujuan khusus
1. Untuk mengubah kebiasaan masyarakat tentang konsumsi garam berlebih dalam pengolahan makanan
2. Untuk menurunkan prevalensi kasus hipertensi di pelabuhan tegal
3. Untuk memberi pengetahuan tentang jenis-jenis makanan yang dapat memicu hipertensi
V. Isi materi
Darah tinggi atau disebut juga denganHipertensi (Hypertension) adalah merupakan peningkatan tekanan darah di atas normal saat dilakukan pemeriksaan tensi darah. Pengukuran tekanan darah bisa dilakukan dengan alat yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital tensimeter.
Normal tekanan darah seseorang adalah sekitar 120/80 mmHG yakni dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Umumnya tekanan darah akan menurun disaat tidur serta akan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga. Bila seseorang mengalami hipertensi/tekanan darah yang cenderung tinggi dan tidak melakukan pengobatan dan pengontrolan secara teratur (rutin), ini dapat membawa si penderita kedalam kasus-kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. mengapa? Tekanan darah tinggi akan menyebabkan jantung bekerja extra keras, sehingga akan berakibat terjadinya kerusakan pada pembuluh darah dan jantung yang menjadi penyebab umum stroke/ serangan jantung (Heart attack). yang menyebabkan kelumpuhan/kematian.
Penyakit darah tinggi atau Hipertensi
Secara Ilmu kedokteran, dikenal ada 2 hal yakni Hipertensi Primary dan Hipertensi Secondary :
• Hipertensi Primary
Kondisi terjadinya tekanan darah tinggi akibat dampak gaya hidup dan faktor lingkungan.
Pola makan tidak terkontrol mengakibatkan obesitas/kelebihan berat badan, adalah penyebab awal tekanan darah tinggi. Sesorang yang berada dalam tingkat tekanan yang tinggi sangat mungkin terkena penyakit tekanan darah tinggi, termasuk orang yang kurang olahraga pun bisa mengalami tekanan darah tinggi.
• Hipertensi Secondary
Adalah kondisi terjadinya tekanan darah tinggi akibat dari penyakit lainnya seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh. Tekanan darah tinggi umumnya juga terjadi pada Ibu hamil, yakni saat kehamilan berusia sekitar 20 minggu, terutama perlu diwaspadai pada wanita yang kelebihan berat badan, yang umumnya merasakan keluhan seperti pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut, muka yang membengkak, kurang nafsu makan, mual bahkan muntah.
1. Penyebab hipertensi
penggunaan obat-obatan hormon, beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok adalah satu penyebab terjadinya tekanan darah tinggi. Minuman beralkohol termasuk satu faktor yang dapat menimbulkan tekanan darah tinggi.
2. Penanganan dan Pengobatan Hipertensi
a. Diet Penyakit Darah Tinggi (Hipertensi)
• Kandungan garam (Sodium/Natrium)
Seseorang yang mengidap penyakit darah tinggi sebaiknya mengontrol diri dalam mengkonsumsi asin-asinan garam. ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk pengontrolan diet sodium/natrium ini ;
- Jangan meletakkan garam diatas meja makan
Pilih jumlah kandungan sodium rendah saat membeli makan

- Batasi konsumsi daging dan keju
- Hindari cemilan yang asin-asin
- Kurangi pemakaian saos yang umumnya memiliki kandungan sodium
• Kandungan Potasium/Kalium
Suplements potasium 2-4 gram perhari dapat membantu penurunan tekanan darah, Potasium umumnya bayak didapati pada beberapa buah-buahan dan sayuran. Buah dan sayuran yang mengandung potasium dan baik untuk di konsumsi penderita tekanan darah tinggi antara lain semangka, alpukat, melon, buah pare, labu siam, bligo, labu parang/labu, mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan bawang putih. Selain itu, makanan yang mengandung unsur omega-3 sagat dikenal efektif dalam membantu penurunan tekanan darah (hipertensi).
Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat;
- Diuretic {Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide)}. Merupakan golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh via urine. Tetapi karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan konsumsi potasium harus dilakukan.
- Beta-blockers {Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril)}. Merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah.
- Calcium channel blockers {Norvasc (amlopidine), Angiotensinconverting enzyme (ACE)}. Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam pengontrolan darah tinggi atau Hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh darah yang juga memperlebar pembuluh darah.
Penyakit Tekanan Darah Tinggi merupakan penyakit turun/menurun?
Umumnya satu keluarga, dalam mengelola aktifitas ataupun pola makanan adalah hampir tipical/kebiasaan yang sama. apakah minum kopi bersama, ataukah menikmati junkfood bersama keluarga dsb. Sehingga hal ini menjadi fenomena klasik, bahwa penyakit tekanan darah tinggi merupakan penyakit menurun.
Cegahlah gejala hipertensi dengan mengatur pola konsumsi makan/minum, serta aktifitas olahraga yang seimbang dengan ukuran berat badan kita masing-masing. Mengurangi makanan fast food dan junk food.
Pilihlah berbagai ragam menu makan/minuman yang menyehatkan dan diperlukan sesuai kebutuhan badan kita. mengapa? karena berbagai hal yang notabene terlalu adalah kurang baik bagi badan kita. apakah hal tsb terlalu manis/terlalu asin/terlalu banyak dsb.
Kenalilah segala aktifitas kita agar terjaga keseimbangannya antara aktifitas, kebutuhan untuk istirahat serta konsumsi makanan/minum yang sehat&menyehatkan. Menjaga kesehatan adalah prioritas bagi pribadi kita semua, karena kesehatan adalah hal yang utama.( nindh)
VI. Metode / cara
Ceramah dan tanya jawab
VII. Alat Peraga
a. Leaflet
b. food model
c. form pre test dan post test
VIII. waktu pelaksanaan
hari / tanggal : senin, 16 agustus 2009
waktu : pukul 09.00 s/d 12.00 WIB
tempat : Balai desa pelabuhan Tegal

Kamis, 26 Maret 2009

EPIDEMIOLOGI

PENGUKURAN KEJADIAN PENYAKIT

APA ARTINYA ?
Yaitu menghitung angka kejadian suatu penyakit berdasarkan umur, jenis kelamin, riwayat penyakit dan variabel lainnya misal status sosial ekomoni.

KEGUNAAN :
Untuk mendeteksi kelompok mana yang memiliki risiko paling tinggi dan faktor-faktor apa saja yang bertindak sebagai faktor risiko.

Keadaan Kesehatan à 5 D
Death à Suatu akibat dari keadaan sehat universal, yang mrpk batas waktu dari kelangsungan kejadian itu sendiri

Disease à Suatu kombinasi dari gejala-gejala, tanda-tanda fisik dan hasil uji laboratorium

Disability à Suatu status fungsional pasien/ ketergantungan dg orang lain

Discomfort à gejala2 yang tidak enak (nyeri,vertigo)

Dissatisfaction à keadaan emosional/mental, misalnya kegelisahan, kesusahan, marah, dll.


Mengukur Frekuensi

1. Ukuran Absolut à menggunakan angka absolut/ mutlak
2. Ukuran Relatif à memproyeksikan angka absolut tersebutkepada populasi berisiko atau di antara group di dalam populasi berisiko.

Hal-hal yang harus dipertimbangkan
dalam pengukuran
Ketepatan pengukuran (precicion of measurement)
Pentingnya suatu pengukuran (importance)
Isu Etikal ( ethical issues)
Sensitivitas(sensitivity)

1. Rate
Perbandingan yg mengukur kemungkinan tjdnya peristiwa/kejadian tertentu
X
Rate = x K
Y
Contoh :

1. Berdasarkan penimbangan di Posyandu se Kecamatan Mlati pada bulan Agustus 2005 tercatat Balita gizi buruk sebesar 20 orang. Balita semua yang ditimbang pada bulan itu sebanyak 100 orang. Hitung rate nya !

2. Pada tahun 2004 terdapat 5000 kasus GO dari 1.000.000 penduduk di Kab. Klaten. Hitung Rate nya !

2. Rasio
Rasio adalah frekuensi relatif dari suatu sifat tertentu dibandingkan denga frekuensi dari sifat lain.

Kuantitas Numerator
Rasio =
Kuantitas Denominator

Contoh :
Dalam suatu kejadian KLB Hepatitis, jumlah penderita laki-laki sebnayak 20 orang dan jumlah penderita perempuan sebanyak 10 orang. Hitung ratio penderita laki-laki : perempuan !

3. Proporsi
Suatu bentuk khusus dari perhitungan rasio
Yaitu pembilang merupakan bagian dari penyebut.
Frekuensi dari suatu sifat tertentu dibandingkan dengan seluruh populasi dimana sifat tersebut didapatkan.

X
Proporsi =
X +Y
Contoh :
Dalam suatu kejadian KLB Hepatitis, jumlah penderita laki-laki sebanyak 20 orang dan jumlah penderita perempuan sebanyak 10 orang. Hitung proporsi penderita laki-laki !

INSIDENSI
a.Insiden Rate
adl jml slrh kasus baru pd suatu pop pd suatu saat/ periode waktu ttt.

Insiden rate = Jumlah seluruh kasus baru dlm pop pd wkt ttt
Jumlah population at risk pada periode wkt yg sama

Setiap individu dlm denominator tidak diobservasi scr penuh dlm periode wkt yg ditentukan
Masing-masing individu mempunyai lama periode observasi yang berbeda

b. Insiden Kumulatif
adl. suatu ukuran ttg kejadian peny/uk status kesh yg lbh sederhana.

Insidens Kumulatif = Jumlah kasus dalam periode wkt ttt
Jumlah population at risk pada awal periode pengamatan

Setiap individu dlm denominator di follow up sampai akhir periode

Population At Risk
Bagian dari populasi yang memiliki risiko untuk terjadinya suatu penyakit.
Contoh à
Dampak penggunaan kontrasepsi oral à Pop at risk adl. wanita usia subur yang telah menikah
Ca paru à Pop at risk adl orang-orang merokok


c. Attack Rate
biasanya dinyatakan dg persen dan dipergunakan dlm jml pop yg relatif sdkt dan wkt yg relatif singkat

Cth : Keadaan wabah, keracunan makanan

attack rate = Jumlah kasus sekunder selama epidemi
Population at risk


Manfaat :
1.Untuk mengetahui kecepatan dan jangkauan penyebaran suatu peny di suatu wil pd suatu wabah
2.Untuk menget keberhasilan upaya pencegahan dan penaggulangan wabah


PREVALENSI
Prevalens rate mengukur jml orang dikalangan pddk yg menderita suatu penyakit pd satu titik waktu tertentu

Prevalens Rate = jml kasus peny yg ada x pd suatu titik waktu
jml pddk seluruhnya

a.Point Prevalens

Yaitu : prevalensi penyakit pada suatu titik waktu tertentu

b.Period Prevalens

Yaitu : berapa banyak individu yang pernah kena penyekit selama periode waktu pengamatan

kasus : kasus baru dan kasus kambuh/relaps selama periode observasi.


Masalah metodologis yg terkait dg estimasi morbiditas
1.Numerator :
a. Variabilitas dalam mendefinisikan penyakit
- tingkatan sakit
- diagnosis

b. Variabilitas metode pengumpulan data
- data sekunder (MR, laporan penyakit)
- data primer (wawancara, pemeriksaan lgs)

2.Denominator
a. Pendefinisian populasi beresiko
b. penghitungan populasi

Beberapa keterbatasan data rumah sakit
1.MR di rumah sakit tidak dirancang untuk penelitian ttt, shg catatan tsb mgk tidak lengkap, hilang, bervariasi dalam hal kuantitas diagnostik
2.Populasi beresiko umumnya tidak terdefinisikan

Sumber – sumber kekeliruan wawancara

1.Orang yg berpenyakit mgk tdk memp gejala dan mgk tdk sadar bahwa dia sakit
2.Orang yg berpenyakit mgk punya gjl peny akan ttp tdk memp perhatian medis, shg tdk tahu nama peny tsb
3.Orang yg berpenyakit mgk py perhatian medis, ttp tdk terdiagnosa atau dia salah mengerti
4.Responden mgk tdk bs mengingat dg baik episode peny atau peritiwa dan pemaparan yg mgk terkait dg penyakit
5.Responden mgk memberikan informasi ttp pewawancara mgk tdk mencatatnya atau salah mencatat
6.Pewawancara mgk tdk menanyakan pertanyaan yg seharusnya ditanyakan atau salah menanyakan
7.Bias seleksi

PENGOBATAN DM TIPE II

cara Pengobatan DM Tipe 2
Beberapa tahun yang lalu, penderita DM tipe 2 memerlukan suntikan insulin, tetapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan, suntikan tersebut mulai dapat digantikan dengan obat-obatan yang diminum.
Berikut adalah jenis-jenis obat-obatan DM tipe 2 yang diminum dan cara kerjanya :
Sulfonylureas
Merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin yang lebih banyak.
Biguanides
Mengurangi kadar zat gula yang diproduksi oleh hati.
Alpha-glucosidase inhibitors
Mengurangi penyerapan kadar gula dari karbohidrat yang kita makan.
Thiazolidinediones
Membuat tubuh menjadi lebih peka terhadap insulin.
Meglitinides
Merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin yang lebih banyak.Konsultasikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan jenis obat ataupun kombinasi obat yang tepat dengan dosis yang efektif.


Tips Bagi Penderita DM tipe 2
Makan makanan yang sehat, olah raga yang teratur dan menurunkan berat badan dapat membantu menurunkan kadar gula
Meminum obat yang dianjurkan oleh dokter secara teratur.
Menghindari terjadinya penurunan gula darah secara drastis yang disebabkan oleh :
Menunda waktu makan atau tidak makan
Makan terlalu sedikit
Olahraga yang lebih berat dari biasanya
Kelebihan minum obat diabetes
Mengkonsumsi alkohol
Tanda-tanda penurunan gula darah secara drastis :
Pening dan kepala terasa ringan
Lapar
Gugup dan gemetaran
Mengantuk dan bingung
Penanggulangannya dapat dengan cara meminum / memakan salah satu jenis makanan ini :
½ gelas jus buah
1 gelas susu
1 atau 2 sendok teh gula atau madu
5-6 permen