Rabu, 07 Januari 2009

VITAMIN D

VITAMIN D
1. DEFINISI
Merupakan persenyawaan Sterol yang mempunyai khasiat anti Rachitis. Paling kurang ada 16 Sterol, yang penting adalah Vitamin D2 dan Vitamin D3.
Vitamin D1 tak ada,karena ini sebenarnya campuran beberapa Sterol
Vitamin D2 = Ergocalciferol = Viosterol = "Irradiated Ergosterol"
Vitamin D3 = Cholecalciferol = Activated 7-Dehydrocholeterol ="irradiated 7-Dehydro Cholesterol.

2. SIFAT/STRUKTUR/GAMBAR
SIFAT
- Kristal tak berwarna, larut dalam Lemak.
- Stabil terhadap panas, asam, alkali dan oksidasi.

STRUKTUR
Struktur aktivitas vitamin D:
1. aktivitas vitamin D2 dan D3 sama pada manusia dan tikus, namun pada ayam aktivitas lebih aktif
2. Epimerisasi dan konversi gugus OH pada C3 dapat mengurangi aktivitas
3. Bentuk ester/eter yang tidak dapat diubah dibadan menjadi tidak aktif
4. Pengurangan/penghilangan rantai samping menyebabkan reaktivitas hilang
5. Adanya gugus karbonil pada rantai samping menyebabkan reaktifitasnya hilang
Vitamin ini merupakan hasil penyinaran pagi, dapat diperoleh dengan penerpaan tetap sinar matahari secara teratur, dan tidak perlu tambahan konsumsi vitamin D, dimana kalsiferon yang terdapat dalam tubuh yang merupakan pro vitamin D dapat diubah menjadi vitamin D2 (ergokalsiferol) dengan bantuan penyinaran matahari pagi, oleh karena itu penting kita terkena sinar matahari pagi. Selain itu, metabolit kolesterol dapat juga diubah menjadi 7-dehidrokolesterol dan diproses menjadi vitamin D3 (kolekalsiferol (selama kulit dikenai sinar). Fungsi dari vitamin D 3 adalah sebagai precursor hormone.
Fungsi biokimia Vitamin D adalah sebagai precursor 1.25-dihidroksi-kolekalsiferol. Dimana, 1.25-dihidroksi-kolekalsiferol (aktif) akan ditransfer ke usus kecil, tulang mengatur metabolisme Ca2+ dan PO42-. 1.25-dihidroksi-kolekalsiferol merangsang absorpsi Ca2+ dalam intestine dan mobilisasinya dari tulang, juga absorpsi PO42-, sehingga kebutuhan Ca2+ dan PO42- terpenuhi. Selain sebagai anti rakhitis, vitamin D juga sebagai factor pertumbuhan.



Cholecalciferol (D 3 ) Cholecalciferol (D 3 ). Berasal dari hewan


Ergocalciferol (D 2 ). Ergocalciferol (D 2 ). Berasal dari tumbuhan

3. SUMBER
Vitamin D diperoleh tubuh melalui sinar matahari dan makanan. Penduduk daerah tropik tidak perlu menghiraukan kemungkinan kekurangan vitamin D. Bayi dan anak-anak dianjurkan berada dibawah sinar matahari beberapa waktu tiap hari. Kekurangan vitamin D lebih mungkin terjadi di negara-negara yang tidak selalau mendapat sinar matahari.
Sumber utama vitamin D di daerah nontropik adalah dari makanan. Makanan hewani merupakan sumber utama vitamin D dalam bentuk kolekalsiferol, yaitu kuning telur, hati, krim, mentega dan minyak hati ikan. Susu sapi dan ASI bukan merupakan sumber vitamin D yang baik. Untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan vitamin D dilakukan fortifikasi makanan, terutama terhadap susu, mentega dan makanan untuk bayi dengan vitamin D2 (ergosterol yang diradiasi). Minyak hati-ikan sering digunakan sebagai suplemen vitamin D untuk bayi dan anak-anak. Dalam keadaan normal suplemen vitamin D sebetulnya tidak diperlukan. Vitamin D relatif stabil dan tidak rusak bila makanan dipanaskan atau disimpan untuk jangka waktu lama. Kandungan vitamin D beberapa bahan makanan dapat dilihat pada tabel :





Bahan Makanan µg Bahan Makanan µg
Susu sapi
ASI
Tepung susu
Krim
Keju
Yogurt
Telur utuh
Kuning telur
Mentega 0,01-0,03
0,04
0,21
0,0-0,28
0,03-0,5
ss-0,04
1,75
4,94
0,76 Minyak hati ikan
Margarin dan sejenis
Daging sapi, babi, biri-biri
Unggas
Hati
Ikan air tawar
Ikan berlemak
Udang dan kerang 210
5,8-8,0
ss
ss
0,2-1,1
ss
ss-25
ss

Keterangan:
ss = sedikit sekali

4. Kecukupan yang dianjurkan
Angka kecukupan gizi vitamin D yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut ini


umur (µg) umur s (µg)

0 – 6 bl 7,5 Wanita:
7 – 12 bl 10 10 – 12 th 10
1 – 3 th 10 13 – 15 th 10
4 – 6 th 10 16 – 19 th 10
7 – 9 th 10 20 – 45 th 5
46 – 59 th 5
≥ 60 th 5
Pria:
10 – 12 th 10 Hamil 10
13 – 15 th 10
16 – 19 th 10 Menyusui
20 – 45 th 5 0 – 6 bl 10
46 – 59 th 5 7 – 12 bl 10
≥ 60 th 5



5. Metabolisme
a. Pencernaan
Vitamin D di absorbsi di usus halus bersama lipida dengan bantuan cairan empedu. Vitamin D dari bagian atas usus halus di angkut oleh D-plasma binding protein (DBP) ketempat-tempat penyimpanan di hati, kulit, otak, tulang, dan jaringan lain. Absorbsi vitamin D pada orang tua kurang efisien bila kandungan kalsium makanan rendah. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh gangguan ginjal dalam memetabolisme vitamin D.

b. Penyerapan
Vitamin D diserap di usus halus dan dibawa ke dalam tubuh melalui pembuluh limfa. Cairan empedu dan konsumsi lemak yang cukup merupakan faktor yang mempercepat penyerapan vitamin D. sedangkan vitamin D yang terbentuk dibawah kulit dengan bantuan sinar matahari langsung diserap ke dalam aliran darah untuk dibawa ke dalam jaringan yang membutuhkan.

c. Transportasi
Vitamin D dari makanan diabsorpsi dalam usus bersama-sama dengan Lemak, diperlukan garam-garam empedu. Provitamin D2 (7-Dehydro Cholesterol) disintesis dalam kulit, diubah jadi Cholecalciferol dengan bantuan sinar ultra violet, lalu diabsorpsi masuk kedalam darah.
Cholecalciferol yang berasal dari diet dan kulit tadi diang kut oleh "Carrier Protein" (yaitu Alpha Globulin) dalam darah menuju hati. Dalam hati, Cholecalciferol bisa disimpan, atau diubah menjadi 25-Hydroxy Cholecalciferol (25-HCC). Ini kemudian diangkut ke Ginjal, diginjal 255-HCC ini diubah menjadi 25-Dihydroxy Cholecalciferol (1,25-DCC), zat ini merupakan Vitamin D yang aktif. Kemudian 1,25-DCC ini disekresikan oleh ginjal kedalam pembuluh darah menuju "target organ" yaitu Nucleus sel usus, nucleus sel tulang, nucleus sel ginjal dan otot bergaris untuk metabolisme Calcium dan Phosphor.
Pada usus halus, 1,25-DCC masuk sel Epithel, kemudian didalam inti ia memberikan DNA khusus dan selanjutnya mensintesis "Calcium Binding Protein" (CBP) dalam Cytoplasma ; Protein ini berfungsi sebagai pengangkut Ca yang aktif dari "Brus Border" yang menghadap lumen usus, kemudian menembus sel dan masuk sirkulasi.
Kadar Ca plasma yang meningkat, akan memacu deposisi tulang. Ini diatur oleh Calcitonin dan Hormon Parathyroidea, tetapi Vitamin D mungkin mempunyai pengaruh lokal langsung, kemungkinan dengan mulainya sistem pengangkutan seluler untuk calcium.
Vitamin D juga mempunyai pengaruh, yakni merangsang absorpsi Phosphate oleh tubulus. Pada manusia gambaran dini dari pada Rachitis (Rickets) yaitu eksresi P melalui urine dengan penurunan P Plasma, pada kadar tertentu bisa mengganggu mineralisasi tulang.

d. Penggunaan ditingkat sel/jaringan
Peran lain Vitamin D diluar dalam pembentukan tulang adalah dalam proses control 200 gen-gen tubuh.Vitamin D berperan dalam hal proliferasi sel, apoptosis(kematian sel) dan angiogenesis (pembentukan pembuluh darah). Bila kadar vitamin D kurang akan berakibat proliferasi sel terganggu sehingga tubuh akan merespon dengan pertumbuhan sel yang abnormal. Vitamin D juga berperan sebagai potent imunomodulator yang menghasilkan monosit dan makrofak dalam liposakarida dalam suatu proses infeksi. Seseorang dengan kadar vitamin D kurang 20 ng permililiter, 20-30 persen berpotensi terjadi kanker colon, prostate, dan payudara. Risiko berkembangnya islet antibodies yang berperan pada penyakit autoimum pada seorang anak berkurang bila ibu selama hamil cukup kadar vitamin D.
Tabir misteri peran vitamin D pada pencegahan berbagai penyakit kronis mulai terungkap ketika para ahli menemukan bahwa hampir semua jaringan dan sel tubuh, termasuk jantung, lambung, pankreas, otak, kulit, dan limposit, memiliki reseptor-sisi penerima-untuk vitamin D. Ini menunjukkan bahwa vitamin D dibutuhkan oleh jaringan itu. Salah satu temuan penting adalah kemampuan vitamin D untuk menurunkan proliferasi (pelipatgandaan secara cepat) sel kanker. Berbagai sel kanker; seperti kanker kolon, kanker payudara, kanker paru, dan kanker prostat; memiliki perangkat enzimatis untuk mengubah vitamin D yang tidak aktif menjadi vitamin aktif. Selanjutnya vitamin D berperan mengatur pertumbuhan sel dan menurunkan aktivitas penggandaannya.Oleh karena itu, sangat beralasan bahwa orang yang tinggal di daerah pada lintang yang lebih tinggi memiliki risiko menderita kanker lebih besar. Mereka berisiko lebih besar kekurangan vitamin D karena paparan sinar matahari (sinar ultraviolet) lebih rendah.

e. Ekskresi
Pada umumnya semua vitamin yang larut lemak ekskesinya terjadi dilimfa dan keluarnya berupa feses.


6. Akibat Kekurangan
Kekurangan vitamin D menyebabkan kelainan pada tulang yang dinamakan riketsia pada anak-anak dan osteomalasia pada orang dewasa. Kekurangan pada orang dewasa juga dapat menyebabkan osteoporosi. Riketsia terjadi bila pengerasan tulang pada anak-anak terhambat sehingga menjadi lembek. Kaki membengkok, ujung-ujung tulang panjang membesar (lutut dan pergelangan), tulang rusuk membengkok, pembesaran kepala karena penutupan fontanel terlambat, gigi terlambat keluar, bntuk gigi tidak teratur dan mudah rusak. Riketsia jarang dapat disembuhkan sepenuhnya. Sebelum ditemukan fortifikasi makanan dengan vitamin D, riketsia banyak terdapat di negara-negara dengan empat musim. Sekarang masih terdapat pada anak-anak miskin di kota-kota industri yang kurang mendapat sinar matahari.
Osteomalasia adalah riketsia pada orang dewasa. Biasanya terjadi pada wanita yang konsumsi kalsiumnya rendah, tidak banyak mendapat sinar matahari dan mengalami banyak kehamilan dan menyusui. Osteomalasia dapat pula terjadi pada mereka yang menderita penyakit saluran cerna, hati, kantung empedu atau ginjal. Tulang melembek yang menyebabkan gangguan dalam bentuk tulang, terutama pada kaki, tulang belakang, toraks, dan pelvis. Gejala awalnya adalah rasa sakit seperti rematik dan lemah dan kadang muka menggamit (twiching), tulang membengkok (bentuk O atau X) dan dapat menyebabkan fraktur (patah). Karena cukup sinar matahari, kekurangan vitamin D tidak merupakan masalah di Indonesia. Suplemen vitamin D tidak dibutuhkan.


7. Akibat Kelebihan
Konsumsi vitamin D dalam jumlah berlebihan mencapai lima kali AKG, yaitu lebih dari 25 mikrogram (1000 SI) sehari, akan menyebabkan keracunan. Gejalanya adalah kelebihan absorpsi vitamin D yang pada akhirnya menyebabkan kalsifikasi belebihan pada tulang dan jaringan tubuh, seperti ginjal, paru-paru, organ tubuh lain. Tanda-tanda khas adalah akibat hiperkalsemia, seperti lemah, sakit kepala, kurang nafsu makan, diare, muntah-muntah, gangguan mental dan pengeluaran urin berlebihan. Bayi yang diberi vitamin D belebihan, menunjukkan gangguan saluran cerna, rapuh tulang, gangguan pertumbuhan dan kelambatan perkembangan mental.

1 komentar:

ita mengatakan...

thanks, buat artikelnya... help me much...
btw liat gambarnya bikin laperrrr lebih enak kalo bisa nyobain hihii kirim ke bandung dong.... :)m