Kamis, 26 Maret 2009

DARAH

DARAH

Darah adalah suspensi dari partikel dalam larutan koloid encer yang mengandung elektrolit. Berguna sebagai medium pertukaran antara sel-sel yang terfiksasi dari tubuh dan lingkungan luar, serta memiliki sifat-sifat protektif terhadap organisme sebagai suatu keseluruhan dan khususnya terhadap dirinya sendiri.
Komponen cair darah dinamakan plasma yang terdiri dari air (91% - 92%) sebagai medium transport.
Zat padat (7% - 9%) padat tersebut adalah protein-protein seperti: albumin, globulin dan fibrinogen: unsur anorganik berupa natrium, kalsium, kalium, fosfor, besi dan yodium.
Unsur organik (berupa zat-zat nitrogen non protein); urea, asam urat, xantin, kreatinin, asam amino, lemak netral, fosfolipid kolesterol, glucose dan berbagai enzim seperti amilase protease dan lipase.
Setelah fibrinogen dan faktor-faktor pembekuan dihilangkan dari plasma tertinggal serum yang mengambang di atas.
Setelah fibrinogen dan faktor-faktor pembekuan dihilangkan dari plasma tertinggal serum yang mengambang di atas.
Peranan ke 3 jenis protein darah:
o Albumin (53%): mempertahankan volume darah dengan memberikan tekanan asmotik koloid, pH dan keseimbangan elektrolit transport ion-ion logam, asam lemak, steroid dan obat-obatan.
o Terbentuk dalam hati
o Globulin (43%) untuk pembentukan antibody dan protrombin
o Terbentuk dalam hati dan jaringan limfoid
o Fibrinogen (4%) penting untuk pembekuan darah
Unsur seluler seluruh darah terdiri dari:
1. Sel darah merah (eritrosit RBC red blood corpuscular yang berfungsi transport dan pertukaran) dan CO2
2. Sel darah putih (leukusit, WBC: White Blood Corpscular) yang berfungsi untuk mengatasi infeksi dan trombosit untuk hemostatis (hematoposis: pembentukan dan pematangan sel darah yang mana terjadi dalam sumsum tulang tengkorak, verebra, pelvis, sternum, iga-iga dan proximal tulang panjang.

Bila kebutuhan meningkat seperti pada pendarahan atau penghancuran sel (hemolisis), pembentukan dapat timbul lagi dalam semua tulang panjang, seperti halnya pada anak-anak.

CARA MEMPELAJARI DARAH
Yang menjadi sifat diagnosis yang cermat pada gangguan hemolitik (diskrasia) adalah penilaian yang teliti pada individu. Penilaian ini mencakup anamnesia yang menyeluruh (yaitu: keadaan sakit masa lampau dan yang sedang berlangsung kontak terhadap obat, kecenderungan pendarahan, keadaan nutrisi, dan sejarah keluarga), pemeriksaan spesifik untuk menentukan kuantitas berbagai unsur darah dan unsur tulang.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan memeriksa volume darah. Dan ambil darah vena, karena hasilnya lebih cermat.
Untuk pengambilan darah perifir dengan menusuk pinggiran bebas lobus telinga atau ujung jari, bisa saja dilakukan, namun hasilnya lebih sedikit dan kurang cermat.
Komponen utama sel darah merah adalah protein hemoglobin (Hb) Sintesis hemoglobin dalam sel darah berlangsung dari aritrosit sampai stadium perkembangan retikulosit. Fungsi utamanya adalah transport O2 dan CO2.

SEL DARAH MERAH
Atau eritosit secara mikroskopis merupakan piringan binkonkaf tidak berinti, sel tersebut lunak dan lentur, maka dalam perjalanannya melalui mikrosirkulasi, konfigurasinya akan berubah sesuai dengan besar kecilnya pembuluh darah yang dilewatinya.
Stroma bagian luar yang mengandung protein terdiri dari antigen kelompok A dan B serta faktor Rh yang menentukan golongan darah seseorang. Sedang komponen utama sel darah merah adalah protein hemoglobin (Hb) yang mengangkut O2 dan CO2 mempertahankan pH normal intrasel. Molekul-molekul Hb terdiri dari globulin dan hem, yang masing-masing mengandung sebuah atom besi, keadaan ini memungkinkan pertukaran gas dengan sempurna.
Jumlah sel darah merah kira-kira 5 juta per millimeter kubik darah rata-rata orang dewasa dan berumur 120 hari. Keseimbangan yang tetap dipertahankan antara kehilangan dan penggantian sel darah normal setiap hari.
Pembentukan sel darah merah bergantung pada jumlah zat-zat makanan yang cukup dan cocok penggunaannya yaitu vitamin B12, asam volat, protein-protein, enzim-enzim dan mineral serta logam-logam seperti besi dan tembaga.
Pembentukan hemoglobin terjadi dalam sumsum tulang melalui semua stadium pematangan. Sel darah merah memasuki sirkulasi sebagai retikulosit dari sumsum tulang.
Sejumlah kecil hemoglobin masih dihasilkan selama satu atau dua hari, reticulum kemudian larut dan menjadi sel darah merah yang matang. Waktu sel menjadi tua, ia menjadi kaku dan rapuh, akhirnya pecah. Hemoglobin kemudian difagosit dalam dan hati, kemudian direduksi menjadi besi, globin dan biliverdin.
Globin masuk kembali ke pool asam amino, dan biliverdin direduksi menjadi bilirubin. Besi diangkut oleh protein transferin plasma ke sumsum tulang. Untuk pembentukan sel darah merah.
Globin masuk kembali ke pool asam amino, dan biliverdin direduksi bilirubin. Besi diangkat oleh protein tranferin plasma ke sumsum tulang. Untuk pembentukan sel darah merah.
Oksi Hb dalam darah arteri adalah merah matang
Dioksi Hb dalam darah adalah merah tua

CARA MENGANGKUT DARAH MERAH
Hematokrit dibagi oleh jumlah sel darah merah menghasilkan volume ertrosit rata-rata MCV/Mean Corpuscular volume. Harga normal MCV: 31 s.d 96 mikro meter kubik. MCV menunjukkan ukuran sel darah merah, kurang dari batas normal, dikatakan mikrositik. Ukuran yang lebih besar dari 96 mikro meter kubik, disebut mikrositik.
Konsetrasi hemoglobin eritrosit rata-rata = MCHC / Mean Corpuscular Hemoglobin Konsetration, mengukur banyaknya hemoglobin dalam 100 ml sel darah padat.
Hemoglobin dibagi hematokrit = MCHC, dinyaakan dalam gram per 100 ml. batas normal adalah 30 sampai 36 gram per 100 ml darah.
MCHC adalah batas normal dinamakan normokrom.
Kurang dari harga nomal: hipokromik, karena pada sediaan apus kelihatan padat.
Konsentrasi hemoglobin rata-rata = MCH / Mean Corpusclar Hemoglobin, mengukur banyaknya hemoglobin yang terdapat dalam satu sel darah merah dengan jumlag sel darah merah per millimeter kubik darah.
MCH dinyatakan dalam pikogram hemoglobin per sel darah merah.
Nilai normal adalah kira-kira 27 sampai 31 pg sel darah merah.
Jumlah retikulosit menggambarkan aktivitas sumsum tulang, retikulosit merupakans el darah merah yang immature tidak berinti dan mengandung sisa-sisa RNA dalam sitoplasma.
Jumlah retikulosit pada sediaan darah apus / perifer adalah 1 sampai 2%.
SEL DARAH PUTIH
Dibagi 2 kelompok besar:
1. Fagosit
2. Limfosit (36%)

FAGOSIT
1. NEtrofil (55%)
2. Eosinofil (1 – 2%)
3. Basofil (0,5% - 1%)
4. Monosit (6%)

LIMFOSIT
Immunosit + prekusor : sel plasma
Fungsi fagosit dan limfosit untuk melindungi tubuh melawan infeksi. Dan batas normal dalam tubuh antara: 4000 sampai 10.000 per mm3
Selain itu juga dibedakan dalam:
Yang granulosit (bergranula dalam sitoplasmanya)
Arganulosit (granul sedikit, samar)
GRANULOSIT : NEUTROFIL
EOSINOFIL
Monosit dan limfosit: granula tampak samar (dalam sitoplasmanya)


NEUTROFIL:
Granula tidak berwana.
Diameter 10 – 12 mm/lebih besar dari sel darah merah, nuklei bersegmen sehingga disebut polimorfonuklear (pmn) fagositosis aktif.
Banyak terdapat pada jam-jam pertama peradangan.
Sel neitrofil pmn:
- 55% dari seluruh leukosit
- Petahanan pertama
- Fagosit aktif
- Banyak pada infeksi karena virus
- Diproduksi dalam sumsum tulang
- Terdapat banyak pada jam-jam pertama peradangan
- Panjang hidupnya terbatas.
Sel eosinofil:
- 2% dari jumlah leukosit
- Fungsi belum diketahui dengan pasti
- Fagositosis tidak begitu besar
- Terdapat meningkat pada hipersensitif: misal asma, alergi, cacing
- Granula berwarna merah pada hipersensitif: misal asma, alergi, cacing
- Granula berawarna merah pada pewarnaan asam
Sel basofil:
- 1% dari jumlah leukosit
- Sinyal khemotaksis terhadap reaksi immunologis
- Berasal dari sunsum tulang
- Sel tidak bertambah pada inefksi
- Sangat tidak sedikit dalam eksudat
- Disebut juga mast sel
- Granula berwarna biru dengan pewarnaan basa.
Sel monosit:
- 6% dari jumlah leukosit
- Disebut juga makrofag, hoistiosit sel retikuloendotelial
- Makrofag yang melapisi sinus-sinus hati, disebut juag sel kupper
- Fungsi aktif : radang akut – sedikit
radang kronis - banyak
- Makrofag dengan inti banyak disebut GIANT SEL
- Siklus hidup panjang
- Infeksi virus/typus abdominalis di fagosit oleh makrofag
- Merupakan garis Pertahanan kedua
- Disebut juga sel epiteloid
- Belum matang waktu masuk aliran darah / jaringan
- Terbentuk dalam sumsum tulang
Sel limfosit:
- 30% dari jumlah leukosit
- Jumlah sedikit, tampak pada radang kronis
- Berperan dalam pembentukan zat inti
- Terbentuk dalam jaringan limfe
GAMBARAN KLINIS
Jumlah dari sel darah putih bisa berkurang atau bertambah.
LEUKOSITOSIS
Adalah peningkatan jumlah sel-sel darah putih, hal ini dapat terjadi pada:
Berbagai infeksi misal pneumonia.
Leukemia
Serangan penyakit malignasi yang cepat
Setelah hemorhagi atau sidera berat.

LIMFOSITOSIS:
Adalah peningkatan dalam jumlah limfosit, hal ini dapat terjadi pada:
Beberapa infeksi, misal: pada batuk rejan.
Limfatik leukemia

EOSINOFILIA
Adalah peningkatan jumlah granulosit eosinoil, hal ini dapat terjadi pada:
Infeksi oleh parasit, misal pada infeksi cacing

LEUKIMIA
Adalah penyakit dimana terjadi pembentukan sel-sel darah putih yang berlebihan
Terdapat beberapa tipe leukemia secara klasik berhubungan dengan dua hal:
a. Apakah kronik atau akut
b. Tipe sel-sel yang meningkat.
Limfatik leukemia : peningkatan jumlah limfosit
Monosit leukemia : peningkatan jumlah monosit
Meiloid leukemia : terdapatnya sel-sel meiloid, yang merupakan sel-sel
primitif dari mana granulosit terbentuk
Leucopenia : merupakan penurunan dalam jumlah leukosit, hal ini
biasanya terjadi pada neutropenia, misal pada
penurunan jumlah-jumlah neutrofil
Yaitu pada : beberapa infeksi virus (influenza)
Anemi aplastika : fungsi sumsum tulang mengalami gangguan atau
berhenti fungsi
Beberapa reaksi obat : amidopryne, golongan thourasil
Agranulositosis : merupakan keadaan dimana secara total atau hampir total
kekurangan granulosit, keadaan ini merupakan gejala-
gejala berat

TROMBOSIT
Jumlah trombosit antara 150 dan 400 x 109 / liter (150000 – 40000 ml) bentuknya oval atau bulat, bikonveks, lempeng yang tidak berinti dan hidup sekitar 10 hari.
Trombosit merupakan bagian sel-sel yang terbesar dalam sumsum tulang. Sekitar 30 – 40% dari jumlah trombosit keseluruhan disimpan dalam limpa sisanya bersirkulasi dalam darah, berdekatan dengan endotelium (terletak pada bagian yang paling dalam dari pembuluh darah)
Fungsi:
- untuk mempertahankan integritas endothelium
- untuk mengatasi pendarahan

GAMBARAN KLINIS
Trombositopeni adalah reduksi abnormal dalam sejumlah trombosit.
Penyebabnya adalah:
a. Hilangnya fungsi sumsum tulang karena leukemia, beberapa obat (salisilat, silonamid, dll) terserangnya sumsum tulang oleh penyakit keganasan.
b. Destruksi yang berlebihan akibat beberapa penyakit otoimun
c. Syok dan beberapa kasus septichemia
Akan terjadi pendarahan atau hemorhagi bila jumlah trombosit turun di bawah 20.000/ml

Ptekhie : Pendarahan kecil-kecil pada subkutan
Ekhimosis : Setiap keadaan dimana terjadi multi hemorhagi pada kulit jaringan subkutan
Plasma : Plasma merupakan bagian cair dari tubuh darah, plasma membentuk sekitar 5% dari berat badan
Fungsi : - Sebagai media sirkulasi elemen-elemen darah yang berbentuk (sel darah merah, sel darah putih, trombosit)
- Sebagai media transportasi bahan-bahan organik dan anorganik dari satu organ atau jaringan ke organ atau jaringan ke organ atau jaringan yang lain.
- Bersama dengan asam alkali protein plasma bertindak sebagai penyangga dalam mempertahankan pH normal tubuh
- Fibrinogen dan protrombin adalah penting untuk pembekuan darah
- Immunoglobulin merupakan hal yang esensial dalam Pertahanan tubuh melawan infeksi

GAMBARAN KLINIS:
Plasma didapat dengan cara melakukan pemisahan sel-sel darah dari darah dengan cara pemusingan.
Plasma diberikan secara intervena:
a. Untuk memulihkan volume darah, misalnya setelah mengalami kehilangan banyak cairan pada luka bakar yang hebat.
b. Untuk memberikan bahan-bahan yang hilang dari darah pasien: misal untuk menggantikan faktor-faktor 2-1, VII, IX, XI bagi pasien yang tidak memilikinya

Perbedaan dalam kandungan plasma protein terjadi dalam: PENYAKIT GINJAL, plasma albumin turun, ketika terdapat kebocoran albumin yang besar melalui glumeruli ginjal.
PENYAKIT HEPAR KRONIK dan KELAPARAN
Plasma albumin turun sebagai akibat dari kebocoran protein dan gagalnya hepar untuk membentuk protein plasma.
INFEKSI
Jumlah globulin biasanya meningkat sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh.

BEBERAPA GANGGUAN PEMBENTUKAN PROTEIN
Congenital atau didapat penurunan dalam pembentukan globulin dalam pembentukan globulin adalah mungkin dapat meningkatkan kecenderungan terkena infeksi.

HEMOSSTASIS
Adalah penghentian pendarahan yang terlibat di dalamnya: pembuluh darah, trombosit, koagulasi darah.

PEMBULUH DARAH
Kerusakan pembuluh darah akan menyebabkan konstriksi oleh refleks saraf sehingga jumlah darah yang hilang berkurang.

TROMBOSIT
Trombosit tetap tinggal pada pinggiran pembuluh darah yang mengalami kerusakan. Dalam keadaan ini dibentuk masa yang menyumbat lubang yang terbentuk sebagian atau keseluruhan. Terbentuk serotonim pada masa tersebut menyebabkan konstriksi pembuluh darah lebih lanjut.

KOAGULASI DARAH:
Darah membeku di atas setiap area kerusakan pembuluh darah, peregangan dari obstruksi dibentuk oleh trombosit dan selanjutnya terjadi penutupan lubang.
Koagulasi dari darah merupakan serangkaian mekanisme biokimia yang kompleks melibatkan paling tidak dua belas elemen komponen plasma yang berbeda yang diberi nomor dari I sampai XII. Fibrin merupakan faktor yang terbentuk paling akhir.
Bahan-bahan yang terlibat meliputi:
o Protrombin
o Tromboplastin (dibentuk oleh sel-sel yang rusak dan trombosit)
o Kalsium, vit K
o Faktor-faktor pembekuan plasma
o Fibrinogen
Dengan interaksi bahan-bahan di atas:
a. Protomborin terbungkus di dalam trombin
b. Trombin dengan fibrinogen membentuk fibrin
c. Fibrin terbungkus di dalam fibrin yang tidak dapat dipecahkan
d. Fibrin yang tidak dapat dipecahkan membentuk jaringan-jaringan sel-sel darah merah terjerat di dalamnya dan menjadi kekakuan.
Fibrin berkonstarksi pada saat itu dan serum cairan kuning pucat dikeluarkan dari bekuan.

LIMPA
Adalah organ berwarna ungu muda berukuran kira-kira satu genggaman orang. Terletak di dalam rongga abdomen kiri atas, dilindungi oleh tulang-tulang rusuk. Limpa mempunyai permukaan medialis yang cekung berhubungan dengan lambung, fleksus splenika kolon dan ginjal kiri.
Hilum merupakan tempat pada permukaan medialisnya dimana pembuluh-pembuluh masuk dan keluar dari limpa.
Sebelah anterior membentuk insisura
Limpa dibungkus oleh peritoneum
STRUKTUR
Limpa terdiri atas:
Kapsul limfe : masa dari jaringan limfe, dengan yang terdapat pada modus limfe
Pulp merah : merupakan jaringan dari jaringan penunjang, sel-sel darah putih
dsb. Dengan banyak sinusoid besar melewatinya.

SUPLAY DARAH
Oleh a. splenika yang timbul dari a. koeliaka
Drainase vena oleh v. splenika merupakan cabang dari v. perta

FUNGSI
1. Pembentukan sel-sel darah merah (hanya pada kehidupan foetus)
2. Penghancuran sel-sel darah merah yang sudah tua
3. Penyimpanan zat besi dari sel-sel darah merah yang dihancurkan
4. Membentuk bilirubin dari sel-sel darah merah
5. Pembentukan limfosit
6. Pembentukan immunoglobin
7. Membuang partikel-partikel benda asing dari dalam darah sebagai tempat penampungan (untuk jumlah yang kecil).
8. enggan kontraksi dari kapsul, bisa menekan darah ke sirkulasi bila diperlukan.

GAMBARAN KLINIS
Pembesaran limfa terjadi pada beberapa infeksi (khusus malaria) leukemia, limfadenoma dsb.

SISTEM RETIKULI – ENDOTELIAL
Retikulo – Endetel (RE) terdiri dari sejumlah sel-sel yang mempunyai struktur yang serupa dan dengan fungsi yang sama terletak dalam berbagai organ dan jaringan.
RE terdapat pada limpa, hepar, thymus, modus limfe, sumsum tulang, dinding pembuluh darah
Fungsi umum:
Adalah membuang partikel-partikel benda asing, menghancurkan sel-sel darah merah yang sudah tua, dan menghancurkan beberapa sel lainnya.
Nilai normal pada unsur pemeriksaan darah :
1. Hb : L : 13,5-18 ; P : 11,5-16,0 .

Hematokrit. : L: 40-57 % ; P : 38-42 %.


Desember 2006
DAFTAR PUSTAKA

1. ………….Anatomi Fisiologis untuk Akademi Perawat
2. Helmut Leonhart, Alih Bahasa: Dr. H. Tonang: Atlas dan Buku Teks Anatomi Manusia
3. Sobata: Prof. Dr. Med. R. Puts – Prof. Dr. Med. R. Pabst: Atlas Anatomi Manusia
4. Sylvia A. Price Lorraine M. Wilson: Patofisiologi, ECG

Tidak ada komentar: